Menu Blog

Senin, 07 Desember 2020

 

Sekolah… Oh Sekolah….

“Ah… kapan ya, aku bisa libur panjang??, hmmp aku pingin belajar dari rumah, bermain di rumah seharian, ah… pokoknya aku ingin berlama-lama di rumah. Kapan ya? Besok sudah hari senin, waktunya aku masuk ke sekolah” Kata Caca. “Kenapa ya, libur sekolahku tidak lama. Masuknya terlalu cepet, pokoknya aku sebell banget deh.” Kata Caca.

“Caca… kamu sudah siapin buku sekolahmu? Besok kamu harus sekolah loh nak.” Kata ibu Caca yang masuk ke kamar Caca. “Eh,ibu. Sudah bu.” Balas Caca.” Ya sudah sekarang kamu tidur ya tapi sebelumnya kamu berdoa dulu. Besok kamu sekolah loh nak.” Kata ibu Caca. “Baik bu, ini Caca mau berdoa lalu setelah itu Caca tidur.” Kata Caca kepada ibu. “Ya… selamat malam nak. Tuhan memberkati kamu.” Kata ibu.

Caca pun berdoa dan kemudian dia tertidur dengan sangat pulan. Keesokkan harinya.

“Ibu… ibu… kenapa ibu tidak membangunkan aku bu?” Aku terlambat ke sekolah nantinya bu. Bagaimana ini bu?” tanya Caca. “Ibu tidak membangunkan kamu, karena ibu mendapatkan pemberitahuan dari gurumu. Kalau sekolahmu sudah diliburkan selama 2 minggu.” Kata ibu. “Loh kok bisa bu? Memangnya kenapa bu?” tanya Caca.

“Karena ada virud covid nak, yang penyebarannya sangat cepat. Untuk saat ini semuanya diminta tinggal di rumah nak. Termasuk ayah juga tidak ke kantor.” Kata ibu. “Oh ya bu? Yeyyyy… hore… aku bisa bermain sepuasnya deh di rumah.” Kata caca. “Eh… kok kamu malah senang, sedih kan kamu nggak bisa bertemu temanmu. Kamu juga nggak bisa belajar bersama dengan teman-temanmu.”Kata ibu. “Ah… tenang bu… nanti juga ketemu. Bu Caca mandi dulu ya. Setelah itu Caca makan.” Kata Caca. “ya sudah pergi sana.” Jawab ibu.

Caca pu melakukan seperti ya ibunya katakan. Tanpa terasa 2 minggu pun telah berlalu dan Caca  pun masih berada di rumah. Dia tidak pergi ke mana-mana atau pu pergi bermain ke rumah temannya.

“Bu… inikan sudah 2 minggu, apa aku sudah bisa pergi ke sekolah?”tanya Caca. “Oh ya nak, ini ibu baru saja mendapatkan kabar dari gurumu. Sekarang ini kalian haruss belajar dari rumah, Semuanya akan melakukan pekerjaan tetapi masih dari rumah nak.” Kata ibu. “Oh begitu ya bu… wah pasti seru dong.” Kata Caca kepada ibu. “Sudah siapkan buku sekolahmu, kamu akan memulai pelajararn. Nanti kamu belajar menggunakan laptop ibu ya. Ibu yang akan menemani kamu belajar.” Balas ibu. “Baik ibu.

Caca pun setiap harinya masih saja belajar dari rumahnya. Caca sudah berada di rumah lebih dari 3 bulan saat ini.

“Ibu… huhuhuhuhu” Caca menangis dengan tersedu-sedu. “Kamu kenapa nak? Kok kamu menagis?” Tanya ibu pada Caca. “ Bu, Caca rindu sekolah bu. Caca rindu teman-teman Caca. Ini lama sekali bu. “ Jawab Caca. “Wah… bukannya Caca senang kalau belajarnya dari rumah?” tanya ibu. “Itu dulu bu, sekarang tidak lagi. Caca sangat rindu teman-teman Caca bu.” Jawab Caca. “Nak… setiap hari haruss kita syukuri. Apapun yang sudah Tuhan berikan harus kita syukuri, jangan disesali. Mulai sekarang, ayo Caca bersyukur dengan apapun yang sudah Tuhan berikan. Tuhan pasti memberikan yang terbaik untuk hidup Caca. “ kata Ibu. “Baik ibu… mulai sekarang Caca akan belajar untuk bersyukur untuk apapun yang sudah Tuhan berikan kepada Caca. Terima kasih ya bu.” Jawab Caca. “Semoga… semuanya akan kembali… virus cepatlah pergi… Sekolah… teman… aku merindukanmu..” Kata Caca yang sedang membuka halaman bukunya


 

Gedung Hijau Kuning

           

            Siang hari yang indah… matahari yang tersenyum cerah. Kuyakin awan hitam tak akan berani menutupi matahari. Ah…. Waktunya sudah tiba…. Saatnya aku pergi bersama dengan teman-temanku. Mataku tertuju pada gedung hijau kuning  yang berada di sudut jalan perkotaan. Aku yakin bahwa teman-temanku pun sedang memikirkan hal yang sama denganku saat ini. Baiklah saatnya kupangil…. “Tina….Tina… ayo… sudah saatnya” Teriakkanku memanggil nama sahabatku di jendela kamar rumahnya. Yeah… rumah Tina tepat berada di sebelah rumahku, bahkan aku tak perlu merindukannya saat pulang sekolah. Aku hanya perlu mengeluarkan kepala dari jendala kamarku dan memanggil namanya, tentunya dia akan menyahutku. Heheheh…

            “Tina… Tina” Aku masih memanggil nama Tina yang sampai dengan saat ini dia belum menjawabku. “Tina….” Teriakku sekali lagi. “Tina tidak ada….. sudah jangan panggil Tina lagi, kalau mau main pergi saja sendiri” Kata ibu Tina yang galak itu. Hmmpp… harus kuakui ibu sahabatku memang galak, semua teman-temanku juga merasakan hal yang sama. Jika ibu Tina memang galak. Ha… sudahlah.. aku ajak yang lain saja. “Aha… aku tahu, lebih baik aku ajak Nina saja. Pasti dia mau. Kataku pada diri sendiri.

“Nina…nina… ayo pergi, sudah saatnya kita pergi”. Kataku memanggil Nina. Oh yeah… Nina juga temanku, tapi tak sedekat aku dan Tina.  “Ayo…. Lari…”jawab Nina yang penuh antusias. “Yeiyy…” jawabku dengan penuh semangat. Sudah ku yakini, Nina selalu siap sedia bila diajak bermain. Cerah…. Warna kuning dan hijau yang sangat indah dan… bersih. Ini dia tempat yang selalu kurindukan disetiap hari minggu. Apalagi  kalau bukan gedung kuning hijau di sudut jalan. “Yeah… gedung hijau kuning ini adalah tempat aku, Nina dan Tina menjalani kehidupan sebagai anak TK. Aku sangat rindu dengan suasana bermain seperti ini. Sudah lama aku tidak ke tempat ini. Inilah hal yang paling aku rindukan disetiap minggunya.

            “Hey… tunggu dulu… kita harus melihat dulu aman atau tidak? Mau ketangkap kamu dari pak Salam?” Kata Nina kepada ku yang sudah memanjat pohon di tangga  belakang TK ku itu. “Oh iya ya… aku hampir lupa” kataku yang menyadari bahwa aku sedang membayangkan memaminkan permainan di TK itu. “Oh… iya.. sepertinya pak Salam tidak ada di sini. Aku yakin, pak Salam pasti di rumahnya. Tidak mungkin hari minggu pak Salam ke sini.” Jawabku kepada Nina dengan tenang. Nina pun mengiyakan dan kami pun memanjat kembali pohon dibelakang TKku. Seperti biasanya, Nina adalah orang pertama bila harus meloncat dari atas pohon jika hendak masuk ke dalam sekolah ku. “Ciyat….. “suara teriakan Nina seperti biasanya.

“Berarti inilah saatnya giliranku yang harus loncat dari pohon untuk dapat masuk ke dalam dunia permainan yang menyenangkan itu.”Kataku yang tersenyum lebar. “Hiyyy…Nina…. Nina…”Aku heran Nina tidak ada di bawah. Biasanya dia akan selalu menungguku. Tumben sekali dia tidak menungguku. “Nina…” Kupanggil lagi nama Nina, namun dia tidak menjawab. “Sudahlah… aku yakin Nina pasti sudah masuk memainkan permaian di taman sekolah. Aku pun segera turun ke bawah.

“Hiya….”Suara yang benar-benar kuat dan bersemangat. “Plug…. Ah… sakit…sakit.. telingaku sakit” suara histerisku karena telingaku dijewer oleh seseorang. “Oh tidak… aduh… bagaimana  ini” kataku yang terbata-bata. “Kulihat Nina yang berdiri ketakutan, seolah aku melihat dia ingin menangis. “Aduh…sakit” ah… akhirnya telingaku dilepaskan juga oleh tangan raksasa ini “Kenapa meloncat dari tembok?” katanya yang berdiri di hadapanku dan Nina. “Memangnya pagar itu masih kurang besar untuk tubuh kurus kalian berdua” tanyanya.

Bukan pak Salam saat ini yang aku takuti. Kepala sekolah TKkulah yang aku sangat kami takuti. “Selamat siang bu, selamat hari minggu.” Kataku pada kepala sekolahku yang terlihat sudah semakin menua. Kulihat uban sudah hampir memenuhi kepalanya. “Kamu mau sekolah? Sekolah besok hari senin, sekarang hari minggu. Pergi ibadah” jawab kepala sekolahku yang galak. “Hehehe.. iya bu… aku salah panjat pohon bu” kataku yang ingin mengelak. “Iya benar bu… salah panjat pohon,.. aku keluar sekarang ya bu. Jawab Nina yang mendukung  jawabanku.

“Oh… begitu ya… nah, karena kalian kebetulan  dan salah turun. Ibu butuh bantuan kalian ya, tolong bantu ibu bersihkan halaman sekolah. Pak Salam tidak bisa membersihkannya karena sakit.”Kata bu Farida dengan tenang. “Apa… sapu maksud ibu?” tanyaku yang penuh keheranan. “Iya… lalu apa lagi” Kata bu Farida yang kemudian menyodorkan sapu lidi kepada aku dan Nina. “Bu…. Masa kita… kita kan sudah tidak sekolah di sini lagi bu.”Kata ku “Iya bu. Kami pergi saja ya bu…orang tua kami pasti sedang mencari kami.”kata Nina. “Oh tenang… setelah ini akan ibu bilang ke orang tua kalian. Kalau kalian baru saja memanjat pohon.” Kata bu Farida

Tidak bu… jangan bu… kami sapu kok bu.. hehehe….”Aku dan Nina pun menyapu halaman sekolah kami. Ah… capek juga Nina… Kamu sih, pakai ngajak aku segala. Kalau aku tahu bakal kayak gini, lebih baik akau membantu ibuku di rumah merebus singkong saja, setelah itu akukan bisa menonton. “iya… salahku… ah…seandainya aku mendengarkan perkataan ayahku untuk tidak pergi bermain. Pastinya, aku sedang asyik menontong TV.

“Sudahlah.. kerjakan saja itu, setelah itu masuk ke dalam ruangan ibu ya” Kata bu Farida. “Oh tidak… pasti bu Farida mendengarkan perkataan kita. Tamatlah hidup kita Nin…” kataku kepada Nina. “Oh tidak… aku mau pulang sekarang” Kata Nina yang kemudian menyimpan sapunya dan duduk di ayunan berwarna merah jambu .

“Ya sudahlah Nina, ayo kita ke ruangan bu Farida sekarang aja yuk. Kita harus berkata yang sebenarnya saja Nin.” Kataku yang kemudian menarik tangan Nina. Aku dan Nina pun masuk ke dalam ruangan bu Farida. Bu Farida menyodorkan kue kering cantik dan sekotak susu untukku dan Nina. “Ayo makan dan minum dulu, kalian sudah mengerjakan tugas dengan sangat baik. Ibu tahu kalian pasti lapar dan haus.” Kata bu Farida. Aku dan Nina pun langsung menyantap  yang sudah disajikan kepada kami.

Saat tengah menikmati makanan, bu Farida pun berbicara kepada kami. “Ibu tahu kenapa kalian datang ke sini. Ibu juga tahu kalau kalian telah berbohong kepada ibu.” Kata bu Farida dengan senyuman yang manis. “ibu… maafkan kami bu, sejujurnya kami memang ingin bermain di sini bu. Kami ingin memainkan ayunan bu.”Kataku sambil menundukkan kepala. “benar bu…, kami sangat ingin memainkan permainan ini bu.”jelas Nina.

“Iya, tapi meloncat tembok adalah perbuatan yang buruk. Berbohong juga bukan hal yang baik. Tuhan tidak menghendaki hal tersebut.”Kata bu Farida. “Iya bu, kami tidak akan melakukan hal ini lagi.”kata ku dan Nina. “Ya sudah, sekarang ibu mau tanya kalian kelas berapa??” tanya bu Farida. “kelas 4 SD bu, heheheh.”Kata ku. “Nah, kalau kalian main barang-barang ini. Apakah tidak rusak. Ini kan permainan untuk anak TK. Lagian ukurannya sudah tak muat lagi kan.”Tanya bu Farida. “Iya sih bu, tapi kami masih pengen sih bu.”Kata Nina sambil menyatap kue di depannya. “Benar, tapi biarkanlah adik-adik kalian yang menikmati. Coba kalian cari permainan untuk seusia kalian ya. Ya sudah setelah ini, kalian boleh bermain sekali lagi.Setelah itu pulang ke rumah dan jangan lagi melakukan hal ini ya” Jelas bu Farida.

“Baik bu, kalau begitu kamu permisi dulu ya bu. Terima kasih bu” Kata ku dan Nina. Ini menjadi terakhir kali kami mengenang kenangan di gedung hijau kuning yang penuh dengan keceriaan. Tak ingin lagi kami melakukan hal yang sama seperti itu. Terima kasih guruku, temanku, dan gedung hijau kuning. Kenangan indah yang takkan kami lupakan. Aku dan Nina pun menutup pintu gerbang sekolah dan melangkah pulang ke rumah dengan penuh sukacita.

 

 

Kantong Merah

Di suatu hari, saat natal natal pun tiba. Dina tengah asyik menikmati berbagai tamu yang datang di rumahnya. “Selamat hari natal…” “Hallo selamat hari natal…” yah… natal telah tiba, saatnya pergi ke rumah temanku. “Aha… ini saatnya untuk aku mencoba kue buatan ibu temanku.” Kata ku ,dalam hati. “mmm… kue milik siapa yah yang paling enak? Ah…dari pada aku  terus berpikir, lebih baik aku mengajak Raymond, Nina, dan Inda saja. Lebih baik, aku bersiap-siap saja.

“Dina…Din… ayo sekarang. Sudah waktunya, sebelum terlalu malam.” Kudengar suara Inda memanggil namaku. Huh… utung saja aku sudah selesai bersisap-siap. “Ayo… kamu sudah membawa kantong ajaib?” Tanyaku yang penuh semangat kepada Inda. “Tentu saja aku siap, ayo kita berangkat sekarang.” Kataku kepada Inda. “Ayo..  kita pergi sekarang, eh kita atur dulu mau ke rumah siapa saja?” Tanya Inda padaku. “oh ya… kita ke rumah Raymon saja terlebih dahulu, neneknya kan jago bikin kue.”.

“Setuju…, ayo kita berangkat.” kata Inda padaku. “Tokkk..tokk..tokk… Selamat hari natal.” Kataku dan Inda. “Eh Din… kamu gimana sih, rumah Raymon kan gelap. Mungkin sedang lampu padam. “Kata Inda. “Ih Inda, kamu gimana sih, kalau lampunya padam berarti rumah kita juga lampunya padam. Rumah aku kan bersebelahan dengan rumahnya.” Kataku pada Inda. “pluk (Indah menepuk jidatnya)… iya juga ya… kita ke belakang rumahnya saja yuk.” Kata Inda. “Raymon… sudah kami tahu pasti kamu ada di rumah, kok lampu depan rumah kalian gelap ya?” Tanya Inda.”Iya, inikan baru jam 7 malam?” Tanyaku pada Raymon.

“Aku juga tidak tahu kenapa, nenekku yang menyuruh kami untuk mematikan lampu.” Kata Raymon yang terlihat kesal. Tiba-tiba suara seseorang pun terdengar di balik pintu Raymon. “Apa yang sedang kalian bicarakan anak-anak? Lebih baik masuk ke dalam rumah.” Suara nenek Raymon pun terdengar sedang memarahi kami. “Eh… nenek.. selamat hari natal nek” Kataku dan Dina.  “Ya… selamat natal, ayo masuk ke dalam”. Dina dan Inda pun masuk ke dalam rumah Raymon. Rumah Raymon terlihat sangat sepi tidak seperti biasanya ya selalu ramai.

Pandangan Dina dan Inda dialihkan dengan sebuah toples kaca bertutup merah yang dibawakan oleh nenek Raymon. “Saya tahu kalian pasti mau merasakan kue ini kan? Kuenya diambil 1 orang satu ya, jangan banyak-banyak. Tidak ada yang membatu nenek membuat kue. Makanya nenek matikan lampu, karena pasti aka nada banyak anak-anak yang berdatangan ke rumah nenek.” Kata nenek Raymon kepada kami sambil menyodorkan toples berisi kue. “Terima kasih nek, pasti enak.” Kata Inda. “Crekk…ckreeekk…. Aduh bapak… gigiku hampir patah.” Teriakkan Inda yang sangat keras.

“ssst… pplug (tangan Dina menutup mulut Inda) awas nanti kamu dimarahin sama neneknya Raymon. “Iya… kamu ambil makan kue kering ini campur saja dengan sprite (Raymon menyodorkan). Emang kuenya kayak batu, nenekku sepertinya lagi kesal. Makanya kuenya kayak batu ya.. Mana kantung merah kalian? ayo masukkin” Tanya Raymon kepada Dina dan Inda. “Ada… jangan diisi, nanti nenek kamu marah. Kami takut pada nenek kamu. Kata Dina kepada Raymon. “Tidak apa-apa, pasti tidak ada yang tahu, ayo masukkin ini.” “Sudah…sudah… ayo kita jalan sekarang, kamu ikut kan Ray.” Tanya Dina pada Ray. “Tentu saja, ayo. Kalian tidak lihat pakaianku yang baru. Heheh” Kata Raymon dengan penuh semangat. “Ayo…” Kata Dina dan Inda yang penuh dengan semangat.

“Rumah siapa lagi?” Tanya Dina. “Rumah Icha yuk” Kata Raymon. “Ayo…” “Selamat hari natal, kata kami bertiga.” “Selamat hari natal, jawab ibu Icha. “Silahkan masuk teman-teman.” Dina dan teman-temannya pun  masuk ke dalam.”  “Ichanya ada bu?”Tanya Inda. “Tidak ada, dia sedang pergi ke rumah neneknya. “Oh ya, ambil permen ini, 1 orang satu ya. Setelah itu, silahkan pulang ya.” Kata ibuk Icha “Ha? Apa? Permen? Inikan natal, kok kita di suruh ngambil permen sudah gitu cuman 1 saja.” Kata Raymon yang semakin mengeluh.

“Ya sudah, kita ambil saja yuk..” kata Dina yang membujuk ke dua temannya. “Malas ah… nggak bisa menuhin kresek merah kita dengan kue-kue kayak yang dulu.” Kata Inda. “Iyah… gimana kalau kita pulang saja?” Kata Raymon yang membujuk kedua temannya. “Gimana kalau kita pergi sekali lagi, siapa tahu kita dapat?” Tanya Dina yang sangat antusias. “mmm.. ayook… aku tahu ke mana,” Kata Raymon dengan penuh antusias. “Ke mana?” Tanya Dina dan Inda

“Ayokk, ke rumah Leci yuk. Pasti seru, makanannya pasti banyak.”  “Ayokk.” Kata Raymon yang disambut dengan teriakan semangat. Dina, Inda dan Raymon pun tiba di rumah Leci. Sesampainya di rumah Leci. Dina dan kedua temannya mendapatkan tantangan telebih dahulu. Mereka harus menyanyikan lagu natal.  “Ayo kita nyanyi lagu Selamat Hari Natal saja.” Kata Raymon yang mengajak teman-temannya. “1… 2… 3... Mulai” Dina dan kedua temannya akhirnya selesai membawakan lagu natal tersebut. “Ya, terima kasih. Ini buat kalian.” Sebuah kantong merah yang indah berhiaskan gambar santa claus. “Terima kasih bu, terima kasih Lecy.” Kata Dina dan ke-2 sahabatnya. Lecy yang tidak berbicara apapun hanya melihat ke-3 temannya yang sangat bersemangat “Ya.. bye-bye” jawab Lecy.

“Ayo cepat buka, ayook…” Kata Raymon yang tidak sabar untuk membuka kantok merah tersebut. “1 … 2… ya….” Seketika Dina dan teman-temannya tersediam dan hanya memandangi isi dari kresek merah tersebut. “Ini benar-benar…..” kata Inda yang kemudian terdiam. “Tidak….. huhuhuh… kenapa natal kali ini kita nggak dapat kayak dulu lagi. Dulunya kresek merah kita selalu terisi beraneka kue. Sekarang. KUe sekeras batu saja. Huhuhuhuh” kata Dina yang menangis sekencang-kencangnya.  “Ayo pulang ke rumah saja” Kata Raymon. Mereka bertiga pun pulang ke rumah dengan membawa 2 buah kresek merah. Sesampainya di rumah Dina menceritakan kepada kakaknya.

“Emangnya Dina dapat apa?” tanya kakak Dina. “Dari rumah Lecy Dina mendapatkan… huhuhuhu… hanya 1 buah minuman. Huhuhu” kata Dina yang masih menagis. “tidak apa-apa, Dina harus bersyukur dengan apapun yang Dina dapatkan. Masih baik ada yang memberikan.” Kata kakak Dina yang sedang menghibur Dina. "Walaupun ke-2 kresek merah ini tidak sesuai harapan Dina, tak masalah  yang penting Dina masih mendapatkan sesuatu ya.” kata kakak Dina. “Dina senang nggak masih bisa berjalan-jalan saat ini?” kata kakak Dina “Iya kak, Dina bersyukur Terima kasih sudah mengingatkan Dina kak” kata Dina yang kembali tersenyum. “Ya sudah, sekarang ayo kita nonton fim natal” kata kakak Dina. “Ayo… aku ingin menontonnya.” Jawab Dina dengan penuh semangat.