Menu Blog

Senin, 07 Desember 2020

 

Gedung Hijau Kuning

           

            Siang hari yang indah… matahari yang tersenyum cerah. Kuyakin awan hitam tak akan berani menutupi matahari. Ah…. Waktunya sudah tiba…. Saatnya aku pergi bersama dengan teman-temanku. Mataku tertuju pada gedung hijau kuning  yang berada di sudut jalan perkotaan. Aku yakin bahwa teman-temanku pun sedang memikirkan hal yang sama denganku saat ini. Baiklah saatnya kupangil…. “Tina….Tina… ayo… sudah saatnya” Teriakkanku memanggil nama sahabatku di jendela kamar rumahnya. Yeah… rumah Tina tepat berada di sebelah rumahku, bahkan aku tak perlu merindukannya saat pulang sekolah. Aku hanya perlu mengeluarkan kepala dari jendala kamarku dan memanggil namanya, tentunya dia akan menyahutku. Heheheh…

            “Tina… Tina” Aku masih memanggil nama Tina yang sampai dengan saat ini dia belum menjawabku. “Tina….” Teriakku sekali lagi. “Tina tidak ada….. sudah jangan panggil Tina lagi, kalau mau main pergi saja sendiri” Kata ibu Tina yang galak itu. Hmmpp… harus kuakui ibu sahabatku memang galak, semua teman-temanku juga merasakan hal yang sama. Jika ibu Tina memang galak. Ha… sudahlah.. aku ajak yang lain saja. “Aha… aku tahu, lebih baik aku ajak Nina saja. Pasti dia mau. Kataku pada diri sendiri.

“Nina…nina… ayo pergi, sudah saatnya kita pergi”. Kataku memanggil Nina. Oh yeah… Nina juga temanku, tapi tak sedekat aku dan Tina.  “Ayo…. Lari…”jawab Nina yang penuh antusias. “Yeiyy…” jawabku dengan penuh semangat. Sudah ku yakini, Nina selalu siap sedia bila diajak bermain. Cerah…. Warna kuning dan hijau yang sangat indah dan… bersih. Ini dia tempat yang selalu kurindukan disetiap hari minggu. Apalagi  kalau bukan gedung kuning hijau di sudut jalan. “Yeah… gedung hijau kuning ini adalah tempat aku, Nina dan Tina menjalani kehidupan sebagai anak TK. Aku sangat rindu dengan suasana bermain seperti ini. Sudah lama aku tidak ke tempat ini. Inilah hal yang paling aku rindukan disetiap minggunya.

            “Hey… tunggu dulu… kita harus melihat dulu aman atau tidak? Mau ketangkap kamu dari pak Salam?” Kata Nina kepada ku yang sudah memanjat pohon di tangga  belakang TK ku itu. “Oh iya ya… aku hampir lupa” kataku yang menyadari bahwa aku sedang membayangkan memaminkan permainan di TK itu. “Oh… iya.. sepertinya pak Salam tidak ada di sini. Aku yakin, pak Salam pasti di rumahnya. Tidak mungkin hari minggu pak Salam ke sini.” Jawabku kepada Nina dengan tenang. Nina pun mengiyakan dan kami pun memanjat kembali pohon dibelakang TKku. Seperti biasanya, Nina adalah orang pertama bila harus meloncat dari atas pohon jika hendak masuk ke dalam sekolah ku. “Ciyat….. “suara teriakan Nina seperti biasanya.

“Berarti inilah saatnya giliranku yang harus loncat dari pohon untuk dapat masuk ke dalam dunia permainan yang menyenangkan itu.”Kataku yang tersenyum lebar. “Hiyyy…Nina…. Nina…”Aku heran Nina tidak ada di bawah. Biasanya dia akan selalu menungguku. Tumben sekali dia tidak menungguku. “Nina…” Kupanggil lagi nama Nina, namun dia tidak menjawab. “Sudahlah… aku yakin Nina pasti sudah masuk memainkan permaian di taman sekolah. Aku pun segera turun ke bawah.

“Hiya….”Suara yang benar-benar kuat dan bersemangat. “Plug…. Ah… sakit…sakit.. telingaku sakit” suara histerisku karena telingaku dijewer oleh seseorang. “Oh tidak… aduh… bagaimana  ini” kataku yang terbata-bata. “Kulihat Nina yang berdiri ketakutan, seolah aku melihat dia ingin menangis. “Aduh…sakit” ah… akhirnya telingaku dilepaskan juga oleh tangan raksasa ini “Kenapa meloncat dari tembok?” katanya yang berdiri di hadapanku dan Nina. “Memangnya pagar itu masih kurang besar untuk tubuh kurus kalian berdua” tanyanya.

Bukan pak Salam saat ini yang aku takuti. Kepala sekolah TKkulah yang aku sangat kami takuti. “Selamat siang bu, selamat hari minggu.” Kataku pada kepala sekolahku yang terlihat sudah semakin menua. Kulihat uban sudah hampir memenuhi kepalanya. “Kamu mau sekolah? Sekolah besok hari senin, sekarang hari minggu. Pergi ibadah” jawab kepala sekolahku yang galak. “Hehehe.. iya bu… aku salah panjat pohon bu” kataku yang ingin mengelak. “Iya benar bu… salah panjat pohon,.. aku keluar sekarang ya bu. Jawab Nina yang mendukung  jawabanku.

“Oh… begitu ya… nah, karena kalian kebetulan  dan salah turun. Ibu butuh bantuan kalian ya, tolong bantu ibu bersihkan halaman sekolah. Pak Salam tidak bisa membersihkannya karena sakit.”Kata bu Farida dengan tenang. “Apa… sapu maksud ibu?” tanyaku yang penuh keheranan. “Iya… lalu apa lagi” Kata bu Farida yang kemudian menyodorkan sapu lidi kepada aku dan Nina. “Bu…. Masa kita… kita kan sudah tidak sekolah di sini lagi bu.”Kata ku “Iya bu. Kami pergi saja ya bu…orang tua kami pasti sedang mencari kami.”kata Nina. “Oh tenang… setelah ini akan ibu bilang ke orang tua kalian. Kalau kalian baru saja memanjat pohon.” Kata bu Farida

Tidak bu… jangan bu… kami sapu kok bu.. hehehe….”Aku dan Nina pun menyapu halaman sekolah kami. Ah… capek juga Nina… Kamu sih, pakai ngajak aku segala. Kalau aku tahu bakal kayak gini, lebih baik akau membantu ibuku di rumah merebus singkong saja, setelah itu akukan bisa menonton. “iya… salahku… ah…seandainya aku mendengarkan perkataan ayahku untuk tidak pergi bermain. Pastinya, aku sedang asyik menontong TV.

“Sudahlah.. kerjakan saja itu, setelah itu masuk ke dalam ruangan ibu ya” Kata bu Farida. “Oh tidak… pasti bu Farida mendengarkan perkataan kita. Tamatlah hidup kita Nin…” kataku kepada Nina. “Oh tidak… aku mau pulang sekarang” Kata Nina yang kemudian menyimpan sapunya dan duduk di ayunan berwarna merah jambu .

“Ya sudahlah Nina, ayo kita ke ruangan bu Farida sekarang aja yuk. Kita harus berkata yang sebenarnya saja Nin.” Kataku yang kemudian menarik tangan Nina. Aku dan Nina pun masuk ke dalam ruangan bu Farida. Bu Farida menyodorkan kue kering cantik dan sekotak susu untukku dan Nina. “Ayo makan dan minum dulu, kalian sudah mengerjakan tugas dengan sangat baik. Ibu tahu kalian pasti lapar dan haus.” Kata bu Farida. Aku dan Nina pun langsung menyantap  yang sudah disajikan kepada kami.

Saat tengah menikmati makanan, bu Farida pun berbicara kepada kami. “Ibu tahu kenapa kalian datang ke sini. Ibu juga tahu kalau kalian telah berbohong kepada ibu.” Kata bu Farida dengan senyuman yang manis. “ibu… maafkan kami bu, sejujurnya kami memang ingin bermain di sini bu. Kami ingin memainkan ayunan bu.”Kataku sambil menundukkan kepala. “benar bu…, kami sangat ingin memainkan permainan ini bu.”jelas Nina.

“Iya, tapi meloncat tembok adalah perbuatan yang buruk. Berbohong juga bukan hal yang baik. Tuhan tidak menghendaki hal tersebut.”Kata bu Farida. “Iya bu, kami tidak akan melakukan hal ini lagi.”kata ku dan Nina. “Ya sudah, sekarang ibu mau tanya kalian kelas berapa??” tanya bu Farida. “kelas 4 SD bu, heheheh.”Kata ku. “Nah, kalau kalian main barang-barang ini. Apakah tidak rusak. Ini kan permainan untuk anak TK. Lagian ukurannya sudah tak muat lagi kan.”Tanya bu Farida. “Iya sih bu, tapi kami masih pengen sih bu.”Kata Nina sambil menyatap kue di depannya. “Benar, tapi biarkanlah adik-adik kalian yang menikmati. Coba kalian cari permainan untuk seusia kalian ya. Ya sudah setelah ini, kalian boleh bermain sekali lagi.Setelah itu pulang ke rumah dan jangan lagi melakukan hal ini ya” Jelas bu Farida.

“Baik bu, kalau begitu kamu permisi dulu ya bu. Terima kasih bu” Kata ku dan Nina. Ini menjadi terakhir kali kami mengenang kenangan di gedung hijau kuning yang penuh dengan keceriaan. Tak ingin lagi kami melakukan hal yang sama seperti itu. Terima kasih guruku, temanku, dan gedung hijau kuning. Kenangan indah yang takkan kami lupakan. Aku dan Nina pun menutup pintu gerbang sekolah dan melangkah pulang ke rumah dengan penuh sukacita.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar