Gedung Hijau Kuning
Siang hari yang indah… matahari yang
tersenyum cerah. Kuyakin awan hitam tak akan berani menutupi matahari. Ah….
Waktunya sudah tiba…. Saatnya aku pergi bersama dengan teman-temanku. Mataku
tertuju pada gedung hijau kuning yang
berada di sudut jalan perkotaan. Aku yakin bahwa teman-temanku pun sedang
memikirkan hal yang sama denganku saat ini. Baiklah saatnya kupangil….
“Tina….Tina… ayo… sudah saatnya” Teriakkanku memanggil nama sahabatku di
jendela kamar rumahnya. Yeah… rumah Tina tepat berada di sebelah rumahku,
bahkan aku tak perlu merindukannya saat pulang sekolah. Aku hanya perlu
mengeluarkan kepala dari jendala kamarku dan memanggil namanya, tentunya dia
akan menyahutku. Heheheh…
“Tina… Tina” Aku masih memanggil
nama Tina yang sampai dengan saat ini dia belum menjawabku. “Tina….” Teriakku
sekali lagi. “Tina tidak ada….. sudah jangan panggil Tina lagi, kalau mau main
pergi saja sendiri” Kata ibu Tina yang galak itu. Hmmpp… harus kuakui ibu sahabatku
memang galak, semua teman-temanku juga merasakan hal yang sama. Jika ibu Tina memang
galak. Ha… sudahlah.. aku ajak yang lain saja. “Aha… aku tahu, lebih baik aku
ajak Nina saja. Pasti dia mau. Kataku pada diri sendiri.
“Nina…nina… ayo pergi, sudah saatnya kita pergi”.
Kataku memanggil Nina. Oh yeah… Nina juga temanku, tapi tak sedekat aku dan
Tina. “Ayo…. Lari…”jawab Nina yang penuh
antusias. “Yeiyy…” jawabku dengan penuh semangat. Sudah ku yakini, Nina selalu
siap sedia bila diajak bermain. Cerah…. Warna kuning dan hijau yang sangat
indah dan… bersih. Ini dia tempat yang selalu kurindukan disetiap hari minggu. Apalagi kalau bukan gedung kuning hijau di sudut
jalan. “Yeah… gedung hijau kuning ini adalah tempat aku, Nina dan Tina
menjalani kehidupan sebagai anak TK. Aku sangat rindu dengan suasana bermain
seperti ini. Sudah lama aku tidak ke tempat ini. Inilah hal yang paling aku
rindukan disetiap minggunya.
“Hey… tunggu dulu… kita harus
melihat dulu aman atau tidak? Mau ketangkap kamu dari pak Salam?” Kata Nina
kepada ku yang sudah memanjat pohon di tangga belakang TK ku itu. “Oh iya ya… aku hampir
lupa” kataku yang menyadari bahwa aku sedang membayangkan memaminkan permainan
di TK itu. “Oh… iya.. sepertinya pak Salam tidak ada di sini. Aku yakin, pak
Salam pasti di rumahnya. Tidak mungkin hari minggu pak Salam ke sini.” Jawabku
kepada Nina dengan tenang. Nina pun mengiyakan dan kami pun memanjat kembali
pohon dibelakang TKku. Seperti biasanya, Nina adalah orang pertama bila harus meloncat
dari atas pohon jika hendak masuk ke dalam sekolah ku. “Ciyat….. “suara
teriakan Nina seperti biasanya.
“Berarti
inilah saatnya giliranku yang harus loncat dari pohon untuk dapat masuk ke
dalam dunia permainan yang menyenangkan itu.”Kataku yang tersenyum lebar. “Hiyyy…Nina….
Nina…”Aku heran Nina tidak ada di bawah. Biasanya dia akan selalu menungguku. Tumben
sekali dia tidak menungguku. “Nina…” Kupanggil lagi nama Nina, namun dia tidak
menjawab. “Sudahlah… aku yakin Nina pasti sudah masuk memainkan permaian di
taman sekolah. Aku pun segera turun ke bawah.
“Hiya….”Suara
yang benar-benar kuat dan bersemangat. “Plug…. Ah… sakit…sakit.. telingaku
sakit” suara histerisku karena telingaku dijewer oleh seseorang. “Oh tidak…
aduh… bagaimana ini” kataku yang
terbata-bata. “Kulihat Nina yang berdiri ketakutan, seolah aku melihat dia
ingin menangis. “Aduh…sakit” ah… akhirnya telingaku dilepaskan juga oleh tangan
raksasa ini “Kenapa meloncat dari tembok?” katanya yang berdiri di hadapanku
dan Nina. “Memangnya pagar itu masih kurang besar untuk tubuh kurus kalian
berdua” tanyanya.
Bukan
pak Salam saat ini yang aku takuti. Kepala sekolah TKkulah yang aku sangat kami
takuti. “Selamat siang bu, selamat hari minggu.” Kataku pada kepala sekolahku
yang terlihat sudah semakin menua. Kulihat uban sudah hampir memenuhi
kepalanya. “Kamu mau sekolah? Sekolah besok hari senin, sekarang hari minggu.
Pergi ibadah” jawab kepala sekolahku yang galak. “Hehehe.. iya bu… aku salah
panjat pohon bu” kataku yang ingin mengelak. “Iya benar bu… salah panjat
pohon,.. aku keluar sekarang ya bu. Jawab Nina yang mendukung jawabanku.
“Oh…
begitu ya… nah, karena kalian kebetulan
dan salah turun. Ibu butuh bantuan kalian ya, tolong bantu ibu bersihkan
halaman sekolah. Pak Salam tidak bisa membersihkannya karena sakit.”Kata bu
Farida dengan tenang. “Apa… sapu maksud ibu?” tanyaku yang penuh keheranan. “Iya…
lalu apa lagi” Kata bu Farida yang kemudian menyodorkan sapu lidi kepada aku
dan Nina. “Bu…. Masa kita… kita kan sudah tidak sekolah di sini lagi bu.”Kata
ku “Iya bu. Kami pergi saja ya bu…orang tua kami pasti sedang mencari
kami.”kata Nina. “Oh tenang… setelah ini akan ibu bilang ke orang tua kalian. Kalau
kalian baru saja memanjat pohon.” Kata bu Farida
Tidak
bu… jangan bu… kami sapu kok bu.. hehehe….”Aku dan Nina pun menyapu halaman sekolah
kami. Ah… capek juga Nina… Kamu sih, pakai ngajak aku segala. Kalau aku tahu
bakal kayak gini, lebih baik akau membantu ibuku di rumah merebus singkong
saja, setelah itu akukan bisa menonton. “iya… salahku… ah…seandainya aku
mendengarkan perkataan ayahku untuk tidak pergi bermain. Pastinya, aku sedang
asyik menontong TV.
“Sudahlah..
kerjakan saja itu, setelah itu masuk ke dalam ruangan ibu ya” Kata bu Farida. “Oh
tidak… pasti bu Farida mendengarkan perkataan kita. Tamatlah hidup kita Nin…”
kataku kepada Nina. “Oh tidak… aku mau pulang sekarang” Kata Nina yang kemudian
menyimpan sapunya dan duduk di ayunan berwarna merah jambu .
“Ya
sudahlah Nina, ayo kita ke ruangan bu Farida sekarang aja yuk. Kita harus
berkata yang sebenarnya saja Nin.” Kataku yang kemudian menarik tangan Nina. Aku
dan Nina pun masuk ke dalam ruangan bu Farida. Bu Farida menyodorkan kue kering
cantik dan sekotak susu untukku dan Nina. “Ayo makan dan minum dulu, kalian sudah
mengerjakan tugas dengan sangat baik. Ibu tahu kalian pasti lapar dan haus.”
Kata bu Farida. Aku dan Nina pun langsung menyantap yang sudah disajikan kepada kami.
Saat
tengah menikmati makanan, bu Farida pun berbicara kepada kami. “Ibu tahu kenapa
kalian datang ke sini. Ibu juga tahu kalau kalian telah berbohong kepada ibu.” Kata
bu Farida dengan senyuman yang manis. “ibu… maafkan kami bu, sejujurnya kami
memang ingin bermain di sini bu. Kami ingin memainkan ayunan bu.”Kataku sambil
menundukkan kepala. “benar bu…, kami sangat ingin memainkan permainan ini
bu.”jelas Nina.
“Iya,
tapi meloncat tembok adalah perbuatan yang buruk. Berbohong juga bukan hal yang
baik. Tuhan tidak menghendaki hal tersebut.”Kata bu Farida. “Iya bu, kami tidak
akan melakukan hal ini lagi.”kata ku dan Nina. “Ya sudah, sekarang ibu mau
tanya kalian kelas berapa??” tanya bu Farida. “kelas 4 SD bu, heheheh.”Kata ku.
“Nah, kalau kalian main barang-barang ini. Apakah tidak rusak. Ini kan
permainan untuk anak TK. Lagian ukurannya sudah tak muat lagi kan.”Tanya bu
Farida. “Iya sih bu, tapi kami masih pengen sih bu.”Kata Nina sambil menyatap
kue di depannya. “Benar, tapi biarkanlah adik-adik kalian yang menikmati. Coba
kalian cari permainan untuk seusia kalian ya. Ya sudah setelah ini, kalian
boleh bermain sekali lagi.Setelah itu pulang ke rumah dan jangan lagi melakukan
hal ini ya” Jelas bu Farida.
“Baik
bu, kalau begitu kamu permisi dulu ya bu. Terima kasih bu” Kata ku dan Nina.
Ini menjadi terakhir kali kami mengenang kenangan di gedung hijau kuning yang
penuh dengan keceriaan. Tak ingin lagi kami melakukan hal yang sama seperti
itu. Terima kasih guruku, temanku, dan gedung hijau kuning. Kenangan indah yang
takkan kami lupakan. Aku dan Nina pun menutup pintu gerbang sekolah dan melangkah
pulang ke rumah dengan penuh sukacita.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar