Menu Blog

Senin, 07 September 2020

 Persimpangan Jalan Setapak


    ”Dasar sombong… kamu pikir dirimu siapa haaa?” Kata laki-laki tua dengan tatapan mata yang seram. “Heyy kau, jangan terlalu bermimpi tinggi. Ingat siapa dirimu, kau hanyalah seorang gadis biasa yang tak mengerti apa-apa.” Katanya dengan nada yang semakin meninggi. DAG…DIG…DUG… jantungku berdetak lebih cepat dari standar normal. Kutarik nafas dalam-dalam dan ku hembuskan dengan pelan. Tak ku ijinkan seorang pun menyadari perasaanku yang dipenuhi rasa marah dan juga takut. Ya, itulah yang terjadi padaku. Bahkan rasa dingin pada dari tubuhku mengalahkan suhu yang dikeluarkan oleh AC. Seolah jantung ini berhenti memompa darah untuk tubuhku. Sekarang, rasa dingin pada tubuhku diikuti oleh keheningan yang memenuhi ruangan persegi itu. Tak dapat ku jawab pertanyaanya, pikirku hanyalah menatap yang paling tepat menjadi jawaban. 6 pasang mata itu menatapku dengan lirih, seolah ingin mengejekku yang sedang terpojok.  

    Huzzzhhh… kuyakinkan diriku menatap setiap mata yang tengah memojokkanku. Diam dan menatap itulah jawaban yang bisa kuberikan. 

    “Ahhh…. Memangnya kenapa?? Apa salahnya mengungkapkan setiap impian??? Apa yang salah dengan kehidupanku?” Tanyaku pada cermin di depanku. Ya, aku telah keluar dari ruangan persegi yang hampir membunuhku. 

    “ Percuma berdoa, apa yang ku dapatkan. Hanyalah hinaan, hahhh... Sudahlah aku tak ingin berdoa lagi. Kukira berdoa dapat merubah nasibku, ternyata doa hanyalah jampi-jampi pelipur lara.” “Mulai sekarang ku tak akan berdoa lagi,” janjiku pada diri sendiri yang kini meratapi betapa malangnya nasibku. 

   Pikirku lagi “Tak ada gunanya berdoa, aku hanya akan dipermalukan. Untuk apa doa itu, memang tak pintar otak ini. Doa itu benar teori jampi-jampi bagi orang disaat takut.” Teriakku dalam hati. Kulangkahkan kaki ini dengan cepat, agar aku segera keluar dari tempat  yang kubenci ini. “Siapa dia ??, seenaknya saja berkata padaku seperti ini?” Kataku yang telah berdiri mencari jalan besar. 

    Haahhhh Aku seperti badut yang menjadi lelucon bagi orang lain. Aku memang bukan siapa-siapa. Aku tahu siapa dan dari mana asalku. Entah kenapa dunia seolah tak berpihak padaku. Kaki ini kulangkahkan dengan begitu cepat, kususuri jalanan sepi itu. Kubiarkan otak ini dipenuhi pekerjaan untuk merumuskan setiap kata hinaan mereka tadi.

    Ahhh…kenapa harus sekarang?? Kataku yang merasa kesal pada diri sendiri. Ah….Air mata ini sudah tak bisa ditahan oleh kedua kelopak mataku. "Drusshhhh....Drushhh...ahhh tapi untunglah hujan yang lebih dahulu membasahiku, sebelum tepat mata ini meneteskan air mata.” Kataku yang kini dibasahi oleh guyuran hujan deras. 

    Setidaknya tangisanku tak terlihat oleh siapapun, yang pastinya aku tak terlihat seperti orang yang baru saja dicampakkan. “Ahh… apakah hujan ini sebagai tanda kalau semesta turut bersedih denganku? Atau semesta memberikan guyuran hujan sebagai tanda penghinaan untukku? Sudahlah, tak ada gunanya aku bertanya pada semesta.” Celutuku dalam hati. Kubiarkan hujanlah yang menjadi saksi untukku, kubiarkan hujan dan air mata ini berbalap-balapan membasahi pipiku. Tangisanku tak dapat kutahan... aku menangis sejadi-jadinya. Jengkel... kecewa… sakit… kini memenuhi diriku. “Tunggu saja dia... akan kubalas suatu saat nanti.” Janjiku pada diri sendiri. 

    Kubiarkan kaki ini terus melangkah.... melangkah sejauh mungkin. Melangkah tanpa menunggu instruksi dari otakku. Tiba... tiba mataku menatap yang tak biasa ku dilihat “Ahh.. warna itu, ya pelangi itu.  Zzztt… kakiku terhenti seketika. Kuizinkan otakku untuk berpikir kembali, sebelum kaki ini kembali melangkah.

    “Oooh tidak… kini aku benar-benar berada di persimpangan jalan setapak. Aku tak tahu, ada di mana aku sekarang. Sudah seberapa jauh aku melangkah? Ah…  mengapa aku berjalan sejauh ini? Apa yang sedang terjadi padaku? ooh.. rupanya aku benar-benar terjebak di persimpangan jalan setapak ini” Kataku yang kini terdiam dan tak ingin melangkah ke mana-mana. 

Kupejamkan mata ini, “Mengapa aku membiarkan api kemarahan ini menuntunku hingga tersesat? Apa yang sudah kuperbuat setahun ini?” Tanyaku yang tersadar dengan pemikiranku selama setahun belakangan ini.

    Ya… aku sadar… aku sudah terjebak dalam persimpangan jalan pemikiranku sendiri selama setahun. Seingatku… setelah  berjalan keluar dari ruangan itu. Aku kembali ke rumah dan mengurung diri selama setahun. Ketakutanku pada semua orang yang sempat mengenaliku. Ya… aku harus jujur dengan diriku sendiri. Namaku telah menjadi perbincangan hangat bagi orang yang mengenaliku. Mukaku menjadi pandangan sebelah mata setiap orang. Senyumku dibalas dengan tatapan tembok datar.

    Semua itu membuatku memilih menutup diri dari indahnya dunia ini. Itulah kejadian setahun yang lalu, membuatku menutup diri dan terjebak pada pemikiran tak berujung. Aku telah melangkah sejauh dari yang dipikirkan orang lain. Bukan… bukan kaki yang kumaksud… tetapi hati tak berkaki ini kubiarkan diisi oleh kegelapan yang menuntunku untuk merancang skenario buruk bagi orang itu.

    “Dipersimpangan jalan setapak pikiranku, kutemukan buku tua berdebu yang menuliskan indahnya sang Mahakarya membentuk diriku.” Ahahah…. Tawa ini pecah menertawai diri sendiri, betapa buruknya diriku tidak kubiarkan doa menjadi penuntun langkah ini. Masakan kubiarkan kegelapan menutupi hati nuraniku? Ahhh… aku telah membiarkan diriku tumbuh seperti kapas. Kubiarkan suara angin itu menerbangkanku ke sana kemari. “Cukup… semua harus berakhir.” Kataku yang beranjak dari kamarku. Kumantapkkan hati dan otakku menuntun kembali langkahku, menuju meja persegi yang memiliki buku berdebu itu.

    Kumantapkan hatiku, untuk mengambil buku berdebu yang  tebalnya seperti kamus dan yeahh... kubaca setiap lembarannya. Ya, aku sadar... masa laluku…perkataan itu, takkan bisa mengubah aku di mata Sang Skenario hidup. “Aku bisa. Sudah cukup setahun kubiarkan diriku terjebak dalam jalanan yang membara dan berhutan lebat. Dipersimpangan jalan ini, kupilih jalan yang berbunga harum dan penuh warna. 

    Kuberanikan mata ini membuka dengan lebar dan menatap dengan tajam. Kuhentakkan kaki ini dan memilih mengajar yang tertinggal dari diriku. Ranselku yang kosong, kini ku isi buku berwarna-warni dan buku berdebu itu. Ah tidak... sekarang menjadi kamus pedoman hidupku. Aku tidak akan meminta orang itu meminta maaf padaku. Akulah yang berterima kasih padanya, membuatku sadar bahwa di persimpangan jalanku, kutemukan apa yang menjadi panggilan hidupku.  

    Kumantapkan kembali tekadku dengan hati yang membara pada apa yang harus kuraih. Kini kupakai kamus tulisan sang Skenario hidup menjadi penuntun langkahku. Ya… inilah aku yang siap mengembara dunia ini.


 Tara and Her Old Shoes

Prokk…prokk…prokk… (suara tepuk tangan dari semua murid dan orang tua kelas 4 A)

“Selamat Tara… kamu mendapatkan peringkat 1 di kelas”. Kata bu Agnes.  “Silahkan Tara bersama orang tuanya maju ke depan menerima hadiah ini”. Panggil bu Agnes dengan senyuman yang sangat indah.

Tara pun maju ke depan bersama dengan ibunya. Tara menerima piagam penghargaan yang diberikan oleh bu Agnes dengan penuh bahagia. Bu Rina adalah ibu dari Tara, melihat keberhasilan dari putrinya dengan penuh sukacita. “Sekali lagi ibu ucapkan selamat ya nak, kamu berhasil mendapatkan hal ini.” Kata bu Agnes sambil menyerahkan piagam Tara. 

Tara dan bu Rina berjalan pulang ke rumah. Tara sangat bahagia saat perjalanan pulang ke rumah. Di perjalanan Tara menyampaikan pesan kepada ibunya. “Bu, kalau teman-teman Tara setiap kali mereka naik kelas dan mendapatkan peringkat. Mereka akan dibelikan hadiah baru oleh orang tua mereka bu.” Kata Tara dengan memamerkan senyuman yang indah. “Oh, begitu ya nak. Itu berarti bagian mereka dari Tuhan nak.” Jawab bu Rina yang disambut dengan seyuman. 

“Aku juga pengen dapat hadiah bu. Aku ingin mendapatkan sepatu baru. Sepatuku sudah lama bu. Aku ingin menggantinya dengan sepatu yang baru bu, sewaktu duduk di kelas yang baru juga.” Kata Tara dengan penuh harap. “Oh iya ya sudah cukup lama nak. Tapi sepatunya belum ada yang sobek ya?” Tanya bu Rina dengan senyuman. “Iya sih bu belum. Tapi aku ingin memakai sepatu baru di kelas yang baru bu. Seperti teman-temanku bu, mereka selalu memakai sepatu yang baru saat masuk kelas baru.” Kata Tara dengan senyuman khasnya lucu. “Oohh begitu ya nak. Kalau begitu kita mampir ke warung bu Tina dulu, kita makan siang di sana ya.” Jawab bu Tina

“Baik bu, oh ya bu aku ingin makan ayam goreng dan es buah. Pasti seger…” Kata Tara yang sangat antusias. Bu Rina kemudian memesan makanan. Setelah beberapa menit kemudian makanan yang dipesan pun datang. Seperti biasa, sebelum makan bu Rina memulai dengan doa terlebih dahulu. 

Saat makan, bu Rina membicarakan sesuatu hal kepada Tara. “Oh ya nak, kamu ingin sepatu baru karena mendapatkan rangking ya?” Tanya bu Rina. “Iya bu, teman-teman ku juga gitu bu, setiap kali dapat ranking pasti dibelikan hadiah bu.” Jelas Tara. “Nak, kamu mendapatkan ranking itu karena Tuhan yang memberikan kamu kepintaran. Tuhan yang membantu kamu sehingga bisa mengerjakan setiap tugas nak.” Kata bu Rina. “Wahh… iya juga ya bu. Lalu bagaimana bu?” Tanya Tara. “Lebih baik, kita memberikan persembahan kepada Tuhan. Karena Tuhan yang sudah memberikan semuanya kepadamu, bagaimana?.” Kata bu Rina yang memberikan senyuman manis kepada anaknya. “Iya bu, aku mau. Lalu bagaimana dengan sepatu baru bu?” Tanya Tara 

“Sekarang coba perhatikan sepatu kamu. Sepatu kamu masih bisa digunakan? Nah, coba kamu ingat-ingat setiap kali ke sekolah kamu selalu menggunakan sepatu inikan? Sepatu ini selalu menemani kamu nak.  Saat kamu lari, saat kamu berjalan disaat hujan dia selalu  menemanimu. Coba perhatikan warnanya, masih tetap cantikkan. Jadi kamu masih bisa menggunakannya nak.” Kata bu Rina yang memberikan penjelasan kepada anaknya. “Iya juga ya bu. Aku tidak dulu mendapatkan sepatu baru bu. Sepatu lamaku masih bagus kok bu.” Kata Tara. “Betul nak, Tuhan pasti sangat bangga dengan apa yang sudah kamu pilih.” Kata bu Rina yang memeluk Tara.  

“Aku tak boleh ikut-ikutan temanku, akukan diciptakan berbeda. Aku harus menjadi diriku sendiri.” Kata Tara disambut dengan senyum simpulnya


 Nina dan Kotak Rahasia


Nina duduk di kelas 4 SD, setiap hari Nina mendapatkan uang jajan dari ibu. Ya… uang jajan yang diberikan kepada Nina untuk ditabung. Ibu berpesan kepada Nina, bila Nina rajin menabung maka ibu akan memberikan hadiah kepadanya. Nina pun melakukan seperti  yang dikatakan oleh ibu. Setiap pulang sekolah, Nina selalu memasukkan uang tabungannya ke dalam celengan. 

Nina bersekolah di salah satu sekolah terbaik di kota tempat dirinya tinggal. Karena Nina bersekolah di tempat yang terkenal. Tentu saja teman-teman Nina adalah anak-anak yang suka menghabiskan uang pemberian orang tua mereka. Setiap pulang sekolah teman-teman Nina  pergi ke mall yang dekat dengan sekolahnya untuk membeli berbagai permainan. Terutama squishy yang saat itu menjadi trand permainan bagi anak-anak seusia Nina.

Pak Tirno dan bu Enda memperhatikan bahwa Nina tidak mengikuti apa yang dilakukan oleh teman-temannya. Dia hanya menemani temannya bila mereka pergi membeli  squishy.  Melihat kelakukan anaknya, pak Tirno dan bu Enda merasa sangat bangga, karena satu-satunya putri yang mereka miliki melakukan apa yang diperintahkan. Oleh karena itu, pak Tirno dan bu Enda membelikan sepatu roda kepada putrinya sebagai hadiah.Ya…  Nina telah melakukan seperti yang dikatakan oleh ibunya.

Saat pulang sekolah, kedua orang tua Nina memanggilnya ke meja makan untuk menyantap makan siang bersama. Ibu telah memasak makanan kesukaan Nina, ayam panggang yang terlihat lezat dan gurih. Selepas mengganti baju sekolah. Nina pun duduk bersama orang tuanya di meja makan. Sebelum  menyantap makanan, ayah mengajak mereka untuk berdoa bersama. Setelah doa, mereka pun menyantap makan siang.

Setelah selesai makan, ayah pergi ke kamar dan membawa sebuah kotak berwarna biru gelap di meja makan. “Nina… ayo buka kotak ini” kata ayah sambil menyodorkan kotak tersebut. “Apa ini ayah??” tanya Nina yang kemudian membuka kotak tersebut. Nina  terkejut melihat isi kotak tersebut. Sepatu roda berwarna pink yang sangat cantik, sepatu yang selama ini diinginkan oleh Nina. Nina kemudian berlari memeluk ayahnya yang saat itu duduk bersebrangan dengannya. “Terima kasih ayah… aku sangat bersyukur. Terima kasih sudah memberikanku ini.” Kata Nina sambil memeluk ayahnya.

Tak lama kemudian, ibu Nina pun keluar dengan membawa sebuah kotak berwarna merah jambu yang cukup berdebu beserta celengannya. “Nina… silahkan buka kotak ini” Ibu menyodorkan kotak tersebut, dan memegang celengan Nina. “Ibu….ibu….. “ Kata Nina yang disertai dengan tangisan yang sangat kuat. “Ibu memintamu membukanya nak, mengapa engkau menangis?” kata ibu sambil tersenyum kepada putrinya, 

Kotak merah jambu ternyata kotak rahasia milik Nina. Nina menyimpannya di bawah lemari pakaiannya. Selama ini ibu dan ayah Nina tidak mengetahui keberadaan dari kotak ini. Nina tidak membuka kotak ini, dia terus menangis memandangi kotak tersebut. Ibu mengelus lembut rambut Nina dan meminta Nina untuk menceritakan mengapa dia menyimpan kotak merah jambu ini. “Ayah… ibu… huhuhuh… maafkan Nina yang selama ini sudah berbohong kepada kalian.” Kata Nina diiringi isak tangisnya. Ayah dan ibu, memeluk Nina yang saat itu masih menangis. “Nina sudah bersalah, uang yang selama ini diberikan oleh ibu tidak setiap hari kutabung. Aku memakai uang yang diberikan oleh ibu untuk bermain game bersama teman-teman. Aku juga membeli permainan tanpa sepengetahuan ayah dan ibu.” Kata Nina sambil membuka kotak merah jambu itu.

“Kotak ini, berisi semua permainan yang kubeli dari hasil uang pemberian ibu dan juga ayah. Aku juga membeli permainan saat pergi bersama teman-teman. Tetapi, aku tidak menunjukkan pada ayah dan ibu. Aku menyimpannya di kotak ini. Maafkan aku ayah… ibu…” Kata Nina yang menunjukkan semua permainannya. “Ayah dan ibu senang bila kamu berkata jujur nak. Ayah dan ibu meminta kamu untuk menabung, agar suatu saat nanti bila kami tidak memiliki uang. Kamu sudah memiliki tabungan dan kamu dapat membeli sesuatu yang kamu butuhkan nak.” Kata ayah yang menatap putrinya dengan lembut. 

“Nina minta maaf ayah… seharusnya nina tidak melakukan hal ini. Nina menyimpan kotak rahasia ini dari ayah dan ibu. Nina sangat menyesal dengan semua perbuatan Nina.”  Kata Nina sambil merapikan permainan di kotak merah jambunya. “Nah… karena itu, ayah  dan ibu sepakat untuk tidak memberikan sepatu roda ini kepada Nina. Sepatu roda ini akan disumbangkan kepada anak-anak yang ada di panti asuhan nak” Kata ibu sambil mengusap rambu Nina. “Iya ibu, tidak apa-apa. Ini semua salah Nina. Seharusnya Nina tidak berbohong kepada kalian. Nina rela bila ibu memberikannya kepada orang lain.” Kata Nina yang kini tersenyum pada ayah dan ibu. 

“Ayah dan ibu memaafkan Nina, dan mulai sekarang Nina ayo menabung lagi ya nak. Jika kamu ingin membeli permainan, beritahukan pada ayah dan ibu dulu ya.” Kata ayah sambil memeluk Nina. “Iya ayah, Nina janji. Nina akan rajin menabung dan tidak akan berbohong lagi.” Kata Nina yang kemudian memeluk orang tuanya. “Betul nak, anak yang jujur pasti akan mendapatkan hadiah dari Tuhan. Sebab, Tuhan mencintai perbuatan yang jujur.” Kata ibu. Sejak saat itu, Nina bertekad untuk tidak lagi berbohong kepada Tuhan dan juga orang tuanya. 


 

Christmas Tree


We wish you ooh merry Christmas…

We wish you ooh merry Christmas…

Itulah yang saat ini ku dengar di sepanjang jalan perkotaan…Oh natal yang kutunggu hampir satu tahun ini. Tentu ini adalah waktu yang paling ditunggu oleh semua orang Kristen. Berkumpul bersama dengan seluruh keluarga,  bercanda, bergurau dan pastinya menikmati aneka jajanan kue yang telah dibuat. Inilah gambaran natal bagi orang perkotaan. 

“Hah…. Tapi tidak denganku… walaupun aku selalu menanti hari natal, tapi keinginanku tak selalu terwujud. Ya itulah diriku…Natal sama seperti hari libur biasanya. Tinggal di pedesaan membuatku tak selalu merasa keindahannya natal.” Kataku yang bergelut dalam hati. 

Baiklah, aku akan memperkenalkan siapa diriku. Namaku Tina, aku tinggal bersama ayahku di sebuah desa kecil dengan rumah yang berukuran minimalis. Rumahku menjadi salah satu dari begitu banyak rumah yang tidak tersentuh oleh listrik. Huhh… betapa sedihnya, natal selalu terasa gelap bagiku. Tak ada lampu kerlap kerlip seperti di perkotaan. Bahkan… aku pun tak mencium aroma kue kering yang baru dibuat. Ciumanku hanya pada singkong dan jagung bakar, sebagai sebuah ciri khas natal yang selalu kulalui.

Tak terdengar juga olehku lagu-lagu natal seperti yang diputarkan oleh orang-orang di perkotaan. Hanya bunyi pukulan tambur dan ukulele yang dimainkan oleh tetangga sekitarku. Bukannya itu membosankan??? “Sepertinya…, natal tahun ini pun akan terlewati seperti natal tahun kemarin. Sangat menyedihkan sekali natal bagiku.” Kataku pada diri sendiri.  Ku tengok pohon natal kecil di sudut ruang tamuku yang tak pernah dihiasi. Aku tak tahu, harus seperti apa menghiasinya. Tak terasa 10 tahun lamanya pohon natal itu menjadi pajangan di pojok ruang tamu rumahku, pastinya dengan debu dan sarang laba-laba yang menghiasinya.   Hahhhh… tawaku lirih melihat pohon natal itu.

“Kamu sedang apa nak? Bapak perhatikan, kamu sedang memikirkan sesuatu ya?” Tanya bapak. “ Oh, bapak… sejak kapan bapak di sini?”  jawabku dengan wajah yang dipenuhi rasa kaget. “Sejak tadi, bapak sudah duduk di sebelahmu. Kamu saja yang tidak menyadarinya” Kata bapak. “Wah… maaf pak, tadi aku tengah asik menatap bintang-bintang di langit.” Kataku yang dipenuhi kebohongan.

“Wah… sebentar lagi natal ya nak. Tak terasa, kita kembali merayakan kelahiran Tuhan Yesus”. Kata bapak yang dipenuhi wajah sumringah. “Hmmmp iya pak, tapi biasa sajakan pak. Toh setiap tahun kita selalu merayakan natal. Seperti biasanya.” Jawabku dengan bunyi suara desahan.

Bapak tak menjawab perkataanku, dia hanya menatap ke depan sambil memandangi pemandangan malam di atas bukit. Suasana malam di desaku sangat dingin, aku dan bapakku tak saling berbicara. Kami duduk di balai-balai rumah sambil memandangi pemandangan malam yang begitu gelap dengan pemikiran yang berkecambuk.

Pagi hari…. Tepatnya tanggal 24 Desember

“Krekk…. Krekkk… krekkk…,”. Buyi suara yang mengganggu telingaku. “KREEKKK…KKKREEEKK….” Bunyi yang tak henti-hentinya, bahkan suaranya seakan-akan berada di sampingku. Aku pun memutuskan untuk beranjak dari tempat tidurku dan melihat apa yang sedang terjadi di depan rumahku. “Pak…. Bapak sedang apa? Kenapa banyak sekali pohon bambu dan benang?” Tanyaku yang dipenuhi rasa kaget karena rumah yang begitu berantakan . 

“Sebentar lagikan natal. Ayo kita hiasi rumah ini.” Kata bapak dengan penuh antusias. “ Memangnya kita akan membuat apa dengan barang-barang ini pak” Tanyaku dengan menunjukkan rasa kesal. “Kita akan membuat pohon natal baru, pohon natal yang lama sudah bapak buang. Karena sudah lama tidak terpakai  jadinya rusak.” Kata bapak dengan penuh bahagia. 

“Tapi kok buatnya dari bambu sih pak. Jadinya pasti jelek, tidak sama seperti pohon natal yang lainnya.” Jawabku dengan penuh kekesalan. “Ya sudah, kalau kamu tidak mau bantu kamu mandi dan makan saja. Biar bapak saja yang menyelesaikannya.” Kata bapak dengan nada datar.

Aku pun memutuskan untuk masuk ke dalam. Beberapa menit kemudian, saat tengah asyik menikmati singkong rebus. Terdengar suara bapak memanggil namaku, “Tina… Tina… ayo kemari, lihatlah ini” suara bapak terdengar bahagia. Aku pun menghampiri bapak dan ya…. menakjubkan “ Wah… pak, ini cantik sekali pak. Kok bapak  bisa membuat seperti ini?” Tanyaku yang dipenuhi dengan rasa penasaran. “ Tentu saja nak, Tuhan sudah menyiapkan segala sesuatu untuk kita. Sekarang tinggal kita yang mengelolanya.” Kata bapak yang penuh kegirangan.

Ya… sekarang rumahku memiliki pohon natal yang ukurannya 210 cm, memang tidak terlalu tinggi. Tapi, ini adalah pohon natal yang belum pernah kulihat di manapun. Pohon natal yang terbuat dari ban motor, nilon, benang, bunga puring, kayu bambu, pohon jambu dan  kapas yang terdapat banyak di belakang rumahku. Tak pernah ku pikirkan sebelumnya, semua barang-barang ini dapat digunakan.

“ Natal …. bukan sekedar menghiasi rumah dengan barang-barang mewah yang kita beli. Natal… hati dan pemikiran kita sadar bahwa Tuhan sudah datang untuk semua orang.” Kata bapak sembari menatap pohon natal buatannya. Mendengar perkataan bapak aku hanya bisa terdiam dan ikut menatapi pohon natal  yang kini berada tepat di depan halaman rumah kami. “Satu hal yang harus kamu tahu dalam hidup ini, natal saat kita sadar bahwa kasih Tuhan sudah memberikan segalanya bagi kita. Apapun yang ada di sekitarmu bisa kau gunakan bukan hanya untukmu. Tapi berguna bagi orang lain. Karena natal itu tentang kasih nak.” Kata bapak yang kemudian pergi dariku.

“Semuanya….. ayo sudah saatnya kita merayakan natal. Ini sudah  hampir jam 12 malam, ayo kita berdoa bersama” Teriak  bapak sambil memukul gentong di depan rumahku untuk memanggil para warga. Teriakan dari para warga pun membuatku hanyut dalam rasa bahagia. Setiap warga datang bersama keluarganya membawa obor. Bernyanyi bersama dengan kerlap kerlip api unggun. Tak lupa jagung bakar dan singkong rebus, inilah yang menghiasi natalku. 

Christmas Tree… suasana berbeda dengan rasa berbeda yang membuatku mengerti arti dari natal yang sebenarnya.