Menu Blog

Senin, 07 September 2020

 Persimpangan Jalan Setapak


    ”Dasar sombong… kamu pikir dirimu siapa haaa?” Kata laki-laki tua dengan tatapan mata yang seram. “Heyy kau, jangan terlalu bermimpi tinggi. Ingat siapa dirimu, kau hanyalah seorang gadis biasa yang tak mengerti apa-apa.” Katanya dengan nada yang semakin meninggi. DAG…DIG…DUG… jantungku berdetak lebih cepat dari standar normal. Kutarik nafas dalam-dalam dan ku hembuskan dengan pelan. Tak ku ijinkan seorang pun menyadari perasaanku yang dipenuhi rasa marah dan juga takut. Ya, itulah yang terjadi padaku. Bahkan rasa dingin pada dari tubuhku mengalahkan suhu yang dikeluarkan oleh AC. Seolah jantung ini berhenti memompa darah untuk tubuhku. Sekarang, rasa dingin pada tubuhku diikuti oleh keheningan yang memenuhi ruangan persegi itu. Tak dapat ku jawab pertanyaanya, pikirku hanyalah menatap yang paling tepat menjadi jawaban. 6 pasang mata itu menatapku dengan lirih, seolah ingin mengejekku yang sedang terpojok.  

    Huzzzhhh… kuyakinkan diriku menatap setiap mata yang tengah memojokkanku. Diam dan menatap itulah jawaban yang bisa kuberikan. 

    “Ahhh…. Memangnya kenapa?? Apa salahnya mengungkapkan setiap impian??? Apa yang salah dengan kehidupanku?” Tanyaku pada cermin di depanku. Ya, aku telah keluar dari ruangan persegi yang hampir membunuhku. 

    “ Percuma berdoa, apa yang ku dapatkan. Hanyalah hinaan, hahhh... Sudahlah aku tak ingin berdoa lagi. Kukira berdoa dapat merubah nasibku, ternyata doa hanyalah jampi-jampi pelipur lara.” “Mulai sekarang ku tak akan berdoa lagi,” janjiku pada diri sendiri yang kini meratapi betapa malangnya nasibku. 

   Pikirku lagi “Tak ada gunanya berdoa, aku hanya akan dipermalukan. Untuk apa doa itu, memang tak pintar otak ini. Doa itu benar teori jampi-jampi bagi orang disaat takut.” Teriakku dalam hati. Kulangkahkan kaki ini dengan cepat, agar aku segera keluar dari tempat  yang kubenci ini. “Siapa dia ??, seenaknya saja berkata padaku seperti ini?” Kataku yang telah berdiri mencari jalan besar. 

    Haahhhh Aku seperti badut yang menjadi lelucon bagi orang lain. Aku memang bukan siapa-siapa. Aku tahu siapa dan dari mana asalku. Entah kenapa dunia seolah tak berpihak padaku. Kaki ini kulangkahkan dengan begitu cepat, kususuri jalanan sepi itu. Kubiarkan otak ini dipenuhi pekerjaan untuk merumuskan setiap kata hinaan mereka tadi.

    Ahhh…kenapa harus sekarang?? Kataku yang merasa kesal pada diri sendiri. Ah….Air mata ini sudah tak bisa ditahan oleh kedua kelopak mataku. "Drusshhhh....Drushhh...ahhh tapi untunglah hujan yang lebih dahulu membasahiku, sebelum tepat mata ini meneteskan air mata.” Kataku yang kini dibasahi oleh guyuran hujan deras. 

    Setidaknya tangisanku tak terlihat oleh siapapun, yang pastinya aku tak terlihat seperti orang yang baru saja dicampakkan. “Ahh… apakah hujan ini sebagai tanda kalau semesta turut bersedih denganku? Atau semesta memberikan guyuran hujan sebagai tanda penghinaan untukku? Sudahlah, tak ada gunanya aku bertanya pada semesta.” Celutuku dalam hati. Kubiarkan hujanlah yang menjadi saksi untukku, kubiarkan hujan dan air mata ini berbalap-balapan membasahi pipiku. Tangisanku tak dapat kutahan... aku menangis sejadi-jadinya. Jengkel... kecewa… sakit… kini memenuhi diriku. “Tunggu saja dia... akan kubalas suatu saat nanti.” Janjiku pada diri sendiri. 

    Kubiarkan kaki ini terus melangkah.... melangkah sejauh mungkin. Melangkah tanpa menunggu instruksi dari otakku. Tiba... tiba mataku menatap yang tak biasa ku dilihat “Ahh.. warna itu, ya pelangi itu.  Zzztt… kakiku terhenti seketika. Kuizinkan otakku untuk berpikir kembali, sebelum kaki ini kembali melangkah.

    “Oooh tidak… kini aku benar-benar berada di persimpangan jalan setapak. Aku tak tahu, ada di mana aku sekarang. Sudah seberapa jauh aku melangkah? Ah…  mengapa aku berjalan sejauh ini? Apa yang sedang terjadi padaku? ooh.. rupanya aku benar-benar terjebak di persimpangan jalan setapak ini” Kataku yang kini terdiam dan tak ingin melangkah ke mana-mana. 

Kupejamkan mata ini, “Mengapa aku membiarkan api kemarahan ini menuntunku hingga tersesat? Apa yang sudah kuperbuat setahun ini?” Tanyaku yang tersadar dengan pemikiranku selama setahun belakangan ini.

    Ya… aku sadar… aku sudah terjebak dalam persimpangan jalan pemikiranku sendiri selama setahun. Seingatku… setelah  berjalan keluar dari ruangan itu. Aku kembali ke rumah dan mengurung diri selama setahun. Ketakutanku pada semua orang yang sempat mengenaliku. Ya… aku harus jujur dengan diriku sendiri. Namaku telah menjadi perbincangan hangat bagi orang yang mengenaliku. Mukaku menjadi pandangan sebelah mata setiap orang. Senyumku dibalas dengan tatapan tembok datar.

    Semua itu membuatku memilih menutup diri dari indahnya dunia ini. Itulah kejadian setahun yang lalu, membuatku menutup diri dan terjebak pada pemikiran tak berujung. Aku telah melangkah sejauh dari yang dipikirkan orang lain. Bukan… bukan kaki yang kumaksud… tetapi hati tak berkaki ini kubiarkan diisi oleh kegelapan yang menuntunku untuk merancang skenario buruk bagi orang itu.

    “Dipersimpangan jalan setapak pikiranku, kutemukan buku tua berdebu yang menuliskan indahnya sang Mahakarya membentuk diriku.” Ahahah…. Tawa ini pecah menertawai diri sendiri, betapa buruknya diriku tidak kubiarkan doa menjadi penuntun langkah ini. Masakan kubiarkan kegelapan menutupi hati nuraniku? Ahhh… aku telah membiarkan diriku tumbuh seperti kapas. Kubiarkan suara angin itu menerbangkanku ke sana kemari. “Cukup… semua harus berakhir.” Kataku yang beranjak dari kamarku. Kumantapkkan hati dan otakku menuntun kembali langkahku, menuju meja persegi yang memiliki buku berdebu itu.

    Kumantapkan hatiku, untuk mengambil buku berdebu yang  tebalnya seperti kamus dan yeahh... kubaca setiap lembarannya. Ya, aku sadar... masa laluku…perkataan itu, takkan bisa mengubah aku di mata Sang Skenario hidup. “Aku bisa. Sudah cukup setahun kubiarkan diriku terjebak dalam jalanan yang membara dan berhutan lebat. Dipersimpangan jalan ini, kupilih jalan yang berbunga harum dan penuh warna. 

    Kuberanikan mata ini membuka dengan lebar dan menatap dengan tajam. Kuhentakkan kaki ini dan memilih mengajar yang tertinggal dari diriku. Ranselku yang kosong, kini ku isi buku berwarna-warni dan buku berdebu itu. Ah tidak... sekarang menjadi kamus pedoman hidupku. Aku tidak akan meminta orang itu meminta maaf padaku. Akulah yang berterima kasih padanya, membuatku sadar bahwa di persimpangan jalanku, kutemukan apa yang menjadi panggilan hidupku.  

    Kumantapkan kembali tekadku dengan hati yang membara pada apa yang harus kuraih. Kini kupakai kamus tulisan sang Skenario hidup menjadi penuntun langkahku. Ya… inilah aku yang siap mengembara dunia ini.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar