Menu Blog

Senin, 07 September 2020

 

Christmas Tree


We wish you ooh merry Christmas…

We wish you ooh merry Christmas…

Itulah yang saat ini ku dengar di sepanjang jalan perkotaan…Oh natal yang kutunggu hampir satu tahun ini. Tentu ini adalah waktu yang paling ditunggu oleh semua orang Kristen. Berkumpul bersama dengan seluruh keluarga,  bercanda, bergurau dan pastinya menikmati aneka jajanan kue yang telah dibuat. Inilah gambaran natal bagi orang perkotaan. 

“Hah…. Tapi tidak denganku… walaupun aku selalu menanti hari natal, tapi keinginanku tak selalu terwujud. Ya itulah diriku…Natal sama seperti hari libur biasanya. Tinggal di pedesaan membuatku tak selalu merasa keindahannya natal.” Kataku yang bergelut dalam hati. 

Baiklah, aku akan memperkenalkan siapa diriku. Namaku Tina, aku tinggal bersama ayahku di sebuah desa kecil dengan rumah yang berukuran minimalis. Rumahku menjadi salah satu dari begitu banyak rumah yang tidak tersentuh oleh listrik. Huhh… betapa sedihnya, natal selalu terasa gelap bagiku. Tak ada lampu kerlap kerlip seperti di perkotaan. Bahkan… aku pun tak mencium aroma kue kering yang baru dibuat. Ciumanku hanya pada singkong dan jagung bakar, sebagai sebuah ciri khas natal yang selalu kulalui.

Tak terdengar juga olehku lagu-lagu natal seperti yang diputarkan oleh orang-orang di perkotaan. Hanya bunyi pukulan tambur dan ukulele yang dimainkan oleh tetangga sekitarku. Bukannya itu membosankan??? “Sepertinya…, natal tahun ini pun akan terlewati seperti natal tahun kemarin. Sangat menyedihkan sekali natal bagiku.” Kataku pada diri sendiri.  Ku tengok pohon natal kecil di sudut ruang tamuku yang tak pernah dihiasi. Aku tak tahu, harus seperti apa menghiasinya. Tak terasa 10 tahun lamanya pohon natal itu menjadi pajangan di pojok ruang tamu rumahku, pastinya dengan debu dan sarang laba-laba yang menghiasinya.   Hahhhh… tawaku lirih melihat pohon natal itu.

“Kamu sedang apa nak? Bapak perhatikan, kamu sedang memikirkan sesuatu ya?” Tanya bapak. “ Oh, bapak… sejak kapan bapak di sini?”  jawabku dengan wajah yang dipenuhi rasa kaget. “Sejak tadi, bapak sudah duduk di sebelahmu. Kamu saja yang tidak menyadarinya” Kata bapak. “Wah… maaf pak, tadi aku tengah asik menatap bintang-bintang di langit.” Kataku yang dipenuhi kebohongan.

“Wah… sebentar lagi natal ya nak. Tak terasa, kita kembali merayakan kelahiran Tuhan Yesus”. Kata bapak yang dipenuhi wajah sumringah. “Hmmmp iya pak, tapi biasa sajakan pak. Toh setiap tahun kita selalu merayakan natal. Seperti biasanya.” Jawabku dengan bunyi suara desahan.

Bapak tak menjawab perkataanku, dia hanya menatap ke depan sambil memandangi pemandangan malam di atas bukit. Suasana malam di desaku sangat dingin, aku dan bapakku tak saling berbicara. Kami duduk di balai-balai rumah sambil memandangi pemandangan malam yang begitu gelap dengan pemikiran yang berkecambuk.

Pagi hari…. Tepatnya tanggal 24 Desember

“Krekk…. Krekkk… krekkk…,”. Buyi suara yang mengganggu telingaku. “KREEKKK…KKKREEEKK….” Bunyi yang tak henti-hentinya, bahkan suaranya seakan-akan berada di sampingku. Aku pun memutuskan untuk beranjak dari tempat tidurku dan melihat apa yang sedang terjadi di depan rumahku. “Pak…. Bapak sedang apa? Kenapa banyak sekali pohon bambu dan benang?” Tanyaku yang dipenuhi rasa kaget karena rumah yang begitu berantakan . 

“Sebentar lagikan natal. Ayo kita hiasi rumah ini.” Kata bapak dengan penuh antusias. “ Memangnya kita akan membuat apa dengan barang-barang ini pak” Tanyaku dengan menunjukkan rasa kesal. “Kita akan membuat pohon natal baru, pohon natal yang lama sudah bapak buang. Karena sudah lama tidak terpakai  jadinya rusak.” Kata bapak dengan penuh bahagia. 

“Tapi kok buatnya dari bambu sih pak. Jadinya pasti jelek, tidak sama seperti pohon natal yang lainnya.” Jawabku dengan penuh kekesalan. “Ya sudah, kalau kamu tidak mau bantu kamu mandi dan makan saja. Biar bapak saja yang menyelesaikannya.” Kata bapak dengan nada datar.

Aku pun memutuskan untuk masuk ke dalam. Beberapa menit kemudian, saat tengah asyik menikmati singkong rebus. Terdengar suara bapak memanggil namaku, “Tina… Tina… ayo kemari, lihatlah ini” suara bapak terdengar bahagia. Aku pun menghampiri bapak dan ya…. menakjubkan “ Wah… pak, ini cantik sekali pak. Kok bapak  bisa membuat seperti ini?” Tanyaku yang dipenuhi dengan rasa penasaran. “ Tentu saja nak, Tuhan sudah menyiapkan segala sesuatu untuk kita. Sekarang tinggal kita yang mengelolanya.” Kata bapak yang penuh kegirangan.

Ya… sekarang rumahku memiliki pohon natal yang ukurannya 210 cm, memang tidak terlalu tinggi. Tapi, ini adalah pohon natal yang belum pernah kulihat di manapun. Pohon natal yang terbuat dari ban motor, nilon, benang, bunga puring, kayu bambu, pohon jambu dan  kapas yang terdapat banyak di belakang rumahku. Tak pernah ku pikirkan sebelumnya, semua barang-barang ini dapat digunakan.

“ Natal …. bukan sekedar menghiasi rumah dengan barang-barang mewah yang kita beli. Natal… hati dan pemikiran kita sadar bahwa Tuhan sudah datang untuk semua orang.” Kata bapak sembari menatap pohon natal buatannya. Mendengar perkataan bapak aku hanya bisa terdiam dan ikut menatapi pohon natal  yang kini berada tepat di depan halaman rumah kami. “Satu hal yang harus kamu tahu dalam hidup ini, natal saat kita sadar bahwa kasih Tuhan sudah memberikan segalanya bagi kita. Apapun yang ada di sekitarmu bisa kau gunakan bukan hanya untukmu. Tapi berguna bagi orang lain. Karena natal itu tentang kasih nak.” Kata bapak yang kemudian pergi dariku.

“Semuanya….. ayo sudah saatnya kita merayakan natal. Ini sudah  hampir jam 12 malam, ayo kita berdoa bersama” Teriak  bapak sambil memukul gentong di depan rumahku untuk memanggil para warga. Teriakan dari para warga pun membuatku hanyut dalam rasa bahagia. Setiap warga datang bersama keluarganya membawa obor. Bernyanyi bersama dengan kerlap kerlip api unggun. Tak lupa jagung bakar dan singkong rebus, inilah yang menghiasi natalku. 

Christmas Tree… suasana berbeda dengan rasa berbeda yang membuatku mengerti arti dari natal yang sebenarnya. 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar