Menu Blog

Senin, 07 Desember 2020

 

Sekolah… Oh Sekolah….

“Ah… kapan ya, aku bisa libur panjang??, hmmp aku pingin belajar dari rumah, bermain di rumah seharian, ah… pokoknya aku ingin berlama-lama di rumah. Kapan ya? Besok sudah hari senin, waktunya aku masuk ke sekolah” Kata Caca. “Kenapa ya, libur sekolahku tidak lama. Masuknya terlalu cepet, pokoknya aku sebell banget deh.” Kata Caca.

“Caca… kamu sudah siapin buku sekolahmu? Besok kamu harus sekolah loh nak.” Kata ibu Caca yang masuk ke kamar Caca. “Eh,ibu. Sudah bu.” Balas Caca.” Ya sudah sekarang kamu tidur ya tapi sebelumnya kamu berdoa dulu. Besok kamu sekolah loh nak.” Kata ibu Caca. “Baik bu, ini Caca mau berdoa lalu setelah itu Caca tidur.” Kata Caca kepada ibu. “Ya… selamat malam nak. Tuhan memberkati kamu.” Kata ibu.

Caca pun berdoa dan kemudian dia tertidur dengan sangat pulan. Keesokkan harinya.

“Ibu… ibu… kenapa ibu tidak membangunkan aku bu?” Aku terlambat ke sekolah nantinya bu. Bagaimana ini bu?” tanya Caca. “Ibu tidak membangunkan kamu, karena ibu mendapatkan pemberitahuan dari gurumu. Kalau sekolahmu sudah diliburkan selama 2 minggu.” Kata ibu. “Loh kok bisa bu? Memangnya kenapa bu?” tanya Caca.

“Karena ada virud covid nak, yang penyebarannya sangat cepat. Untuk saat ini semuanya diminta tinggal di rumah nak. Termasuk ayah juga tidak ke kantor.” Kata ibu. “Oh ya bu? Yeyyyy… hore… aku bisa bermain sepuasnya deh di rumah.” Kata caca. “Eh… kok kamu malah senang, sedih kan kamu nggak bisa bertemu temanmu. Kamu juga nggak bisa belajar bersama dengan teman-temanmu.”Kata ibu. “Ah… tenang bu… nanti juga ketemu. Bu Caca mandi dulu ya. Setelah itu Caca makan.” Kata Caca. “ya sudah pergi sana.” Jawab ibu.

Caca pu melakukan seperti ya ibunya katakan. Tanpa terasa 2 minggu pun telah berlalu dan Caca  pun masih berada di rumah. Dia tidak pergi ke mana-mana atau pu pergi bermain ke rumah temannya.

“Bu… inikan sudah 2 minggu, apa aku sudah bisa pergi ke sekolah?”tanya Caca. “Oh ya nak, ini ibu baru saja mendapatkan kabar dari gurumu. Sekarang ini kalian haruss belajar dari rumah, Semuanya akan melakukan pekerjaan tetapi masih dari rumah nak.” Kata ibu. “Oh begitu ya bu… wah pasti seru dong.” Kata Caca kepada ibu. “Sudah siapkan buku sekolahmu, kamu akan memulai pelajararn. Nanti kamu belajar menggunakan laptop ibu ya. Ibu yang akan menemani kamu belajar.” Balas ibu. “Baik ibu.

Caca pun setiap harinya masih saja belajar dari rumahnya. Caca sudah berada di rumah lebih dari 3 bulan saat ini.

“Ibu… huhuhuhuhu” Caca menangis dengan tersedu-sedu. “Kamu kenapa nak? Kok kamu menagis?” Tanya ibu pada Caca. “ Bu, Caca rindu sekolah bu. Caca rindu teman-teman Caca. Ini lama sekali bu. “ Jawab Caca. “Wah… bukannya Caca senang kalau belajarnya dari rumah?” tanya ibu. “Itu dulu bu, sekarang tidak lagi. Caca sangat rindu teman-teman Caca bu.” Jawab Caca. “Nak… setiap hari haruss kita syukuri. Apapun yang sudah Tuhan berikan harus kita syukuri, jangan disesali. Mulai sekarang, ayo Caca bersyukur dengan apapun yang sudah Tuhan berikan. Tuhan pasti memberikan yang terbaik untuk hidup Caca. “ kata Ibu. “Baik ibu… mulai sekarang Caca akan belajar untuk bersyukur untuk apapun yang sudah Tuhan berikan kepada Caca. Terima kasih ya bu.” Jawab Caca. “Semoga… semuanya akan kembali… virus cepatlah pergi… Sekolah… teman… aku merindukanmu..” Kata Caca yang sedang membuka halaman bukunya


 

Gedung Hijau Kuning

           

            Siang hari yang indah… matahari yang tersenyum cerah. Kuyakin awan hitam tak akan berani menutupi matahari. Ah…. Waktunya sudah tiba…. Saatnya aku pergi bersama dengan teman-temanku. Mataku tertuju pada gedung hijau kuning  yang berada di sudut jalan perkotaan. Aku yakin bahwa teman-temanku pun sedang memikirkan hal yang sama denganku saat ini. Baiklah saatnya kupangil…. “Tina….Tina… ayo… sudah saatnya” Teriakkanku memanggil nama sahabatku di jendela kamar rumahnya. Yeah… rumah Tina tepat berada di sebelah rumahku, bahkan aku tak perlu merindukannya saat pulang sekolah. Aku hanya perlu mengeluarkan kepala dari jendala kamarku dan memanggil namanya, tentunya dia akan menyahutku. Heheheh…

            “Tina… Tina” Aku masih memanggil nama Tina yang sampai dengan saat ini dia belum menjawabku. “Tina….” Teriakku sekali lagi. “Tina tidak ada….. sudah jangan panggil Tina lagi, kalau mau main pergi saja sendiri” Kata ibu Tina yang galak itu. Hmmpp… harus kuakui ibu sahabatku memang galak, semua teman-temanku juga merasakan hal yang sama. Jika ibu Tina memang galak. Ha… sudahlah.. aku ajak yang lain saja. “Aha… aku tahu, lebih baik aku ajak Nina saja. Pasti dia mau. Kataku pada diri sendiri.

“Nina…nina… ayo pergi, sudah saatnya kita pergi”. Kataku memanggil Nina. Oh yeah… Nina juga temanku, tapi tak sedekat aku dan Tina.  “Ayo…. Lari…”jawab Nina yang penuh antusias. “Yeiyy…” jawabku dengan penuh semangat. Sudah ku yakini, Nina selalu siap sedia bila diajak bermain. Cerah…. Warna kuning dan hijau yang sangat indah dan… bersih. Ini dia tempat yang selalu kurindukan disetiap hari minggu. Apalagi  kalau bukan gedung kuning hijau di sudut jalan. “Yeah… gedung hijau kuning ini adalah tempat aku, Nina dan Tina menjalani kehidupan sebagai anak TK. Aku sangat rindu dengan suasana bermain seperti ini. Sudah lama aku tidak ke tempat ini. Inilah hal yang paling aku rindukan disetiap minggunya.

            “Hey… tunggu dulu… kita harus melihat dulu aman atau tidak? Mau ketangkap kamu dari pak Salam?” Kata Nina kepada ku yang sudah memanjat pohon di tangga  belakang TK ku itu. “Oh iya ya… aku hampir lupa” kataku yang menyadari bahwa aku sedang membayangkan memaminkan permainan di TK itu. “Oh… iya.. sepertinya pak Salam tidak ada di sini. Aku yakin, pak Salam pasti di rumahnya. Tidak mungkin hari minggu pak Salam ke sini.” Jawabku kepada Nina dengan tenang. Nina pun mengiyakan dan kami pun memanjat kembali pohon dibelakang TKku. Seperti biasanya, Nina adalah orang pertama bila harus meloncat dari atas pohon jika hendak masuk ke dalam sekolah ku. “Ciyat….. “suara teriakan Nina seperti biasanya.

“Berarti inilah saatnya giliranku yang harus loncat dari pohon untuk dapat masuk ke dalam dunia permainan yang menyenangkan itu.”Kataku yang tersenyum lebar. “Hiyyy…Nina…. Nina…”Aku heran Nina tidak ada di bawah. Biasanya dia akan selalu menungguku. Tumben sekali dia tidak menungguku. “Nina…” Kupanggil lagi nama Nina, namun dia tidak menjawab. “Sudahlah… aku yakin Nina pasti sudah masuk memainkan permaian di taman sekolah. Aku pun segera turun ke bawah.

“Hiya….”Suara yang benar-benar kuat dan bersemangat. “Plug…. Ah… sakit…sakit.. telingaku sakit” suara histerisku karena telingaku dijewer oleh seseorang. “Oh tidak… aduh… bagaimana  ini” kataku yang terbata-bata. “Kulihat Nina yang berdiri ketakutan, seolah aku melihat dia ingin menangis. “Aduh…sakit” ah… akhirnya telingaku dilepaskan juga oleh tangan raksasa ini “Kenapa meloncat dari tembok?” katanya yang berdiri di hadapanku dan Nina. “Memangnya pagar itu masih kurang besar untuk tubuh kurus kalian berdua” tanyanya.

Bukan pak Salam saat ini yang aku takuti. Kepala sekolah TKkulah yang aku sangat kami takuti. “Selamat siang bu, selamat hari minggu.” Kataku pada kepala sekolahku yang terlihat sudah semakin menua. Kulihat uban sudah hampir memenuhi kepalanya. “Kamu mau sekolah? Sekolah besok hari senin, sekarang hari minggu. Pergi ibadah” jawab kepala sekolahku yang galak. “Hehehe.. iya bu… aku salah panjat pohon bu” kataku yang ingin mengelak. “Iya benar bu… salah panjat pohon,.. aku keluar sekarang ya bu. Jawab Nina yang mendukung  jawabanku.

“Oh… begitu ya… nah, karena kalian kebetulan  dan salah turun. Ibu butuh bantuan kalian ya, tolong bantu ibu bersihkan halaman sekolah. Pak Salam tidak bisa membersihkannya karena sakit.”Kata bu Farida dengan tenang. “Apa… sapu maksud ibu?” tanyaku yang penuh keheranan. “Iya… lalu apa lagi” Kata bu Farida yang kemudian menyodorkan sapu lidi kepada aku dan Nina. “Bu…. Masa kita… kita kan sudah tidak sekolah di sini lagi bu.”Kata ku “Iya bu. Kami pergi saja ya bu…orang tua kami pasti sedang mencari kami.”kata Nina. “Oh tenang… setelah ini akan ibu bilang ke orang tua kalian. Kalau kalian baru saja memanjat pohon.” Kata bu Farida

Tidak bu… jangan bu… kami sapu kok bu.. hehehe….”Aku dan Nina pun menyapu halaman sekolah kami. Ah… capek juga Nina… Kamu sih, pakai ngajak aku segala. Kalau aku tahu bakal kayak gini, lebih baik akau membantu ibuku di rumah merebus singkong saja, setelah itu akukan bisa menonton. “iya… salahku… ah…seandainya aku mendengarkan perkataan ayahku untuk tidak pergi bermain. Pastinya, aku sedang asyik menontong TV.

“Sudahlah.. kerjakan saja itu, setelah itu masuk ke dalam ruangan ibu ya” Kata bu Farida. “Oh tidak… pasti bu Farida mendengarkan perkataan kita. Tamatlah hidup kita Nin…” kataku kepada Nina. “Oh tidak… aku mau pulang sekarang” Kata Nina yang kemudian menyimpan sapunya dan duduk di ayunan berwarna merah jambu .

“Ya sudahlah Nina, ayo kita ke ruangan bu Farida sekarang aja yuk. Kita harus berkata yang sebenarnya saja Nin.” Kataku yang kemudian menarik tangan Nina. Aku dan Nina pun masuk ke dalam ruangan bu Farida. Bu Farida menyodorkan kue kering cantik dan sekotak susu untukku dan Nina. “Ayo makan dan minum dulu, kalian sudah mengerjakan tugas dengan sangat baik. Ibu tahu kalian pasti lapar dan haus.” Kata bu Farida. Aku dan Nina pun langsung menyantap  yang sudah disajikan kepada kami.

Saat tengah menikmati makanan, bu Farida pun berbicara kepada kami. “Ibu tahu kenapa kalian datang ke sini. Ibu juga tahu kalau kalian telah berbohong kepada ibu.” Kata bu Farida dengan senyuman yang manis. “ibu… maafkan kami bu, sejujurnya kami memang ingin bermain di sini bu. Kami ingin memainkan ayunan bu.”Kataku sambil menundukkan kepala. “benar bu…, kami sangat ingin memainkan permainan ini bu.”jelas Nina.

“Iya, tapi meloncat tembok adalah perbuatan yang buruk. Berbohong juga bukan hal yang baik. Tuhan tidak menghendaki hal tersebut.”Kata bu Farida. “Iya bu, kami tidak akan melakukan hal ini lagi.”kata ku dan Nina. “Ya sudah, sekarang ibu mau tanya kalian kelas berapa??” tanya bu Farida. “kelas 4 SD bu, heheheh.”Kata ku. “Nah, kalau kalian main barang-barang ini. Apakah tidak rusak. Ini kan permainan untuk anak TK. Lagian ukurannya sudah tak muat lagi kan.”Tanya bu Farida. “Iya sih bu, tapi kami masih pengen sih bu.”Kata Nina sambil menyatap kue di depannya. “Benar, tapi biarkanlah adik-adik kalian yang menikmati. Coba kalian cari permainan untuk seusia kalian ya. Ya sudah setelah ini, kalian boleh bermain sekali lagi.Setelah itu pulang ke rumah dan jangan lagi melakukan hal ini ya” Jelas bu Farida.

“Baik bu, kalau begitu kamu permisi dulu ya bu. Terima kasih bu” Kata ku dan Nina. Ini menjadi terakhir kali kami mengenang kenangan di gedung hijau kuning yang penuh dengan keceriaan. Tak ingin lagi kami melakukan hal yang sama seperti itu. Terima kasih guruku, temanku, dan gedung hijau kuning. Kenangan indah yang takkan kami lupakan. Aku dan Nina pun menutup pintu gerbang sekolah dan melangkah pulang ke rumah dengan penuh sukacita.

 

 

Kantong Merah

Di suatu hari, saat natal natal pun tiba. Dina tengah asyik menikmati berbagai tamu yang datang di rumahnya. “Selamat hari natal…” “Hallo selamat hari natal…” yah… natal telah tiba, saatnya pergi ke rumah temanku. “Aha… ini saatnya untuk aku mencoba kue buatan ibu temanku.” Kata ku ,dalam hati. “mmm… kue milik siapa yah yang paling enak? Ah…dari pada aku  terus berpikir, lebih baik aku mengajak Raymond, Nina, dan Inda saja. Lebih baik, aku bersiap-siap saja.

“Dina…Din… ayo sekarang. Sudah waktunya, sebelum terlalu malam.” Kudengar suara Inda memanggil namaku. Huh… utung saja aku sudah selesai bersisap-siap. “Ayo… kamu sudah membawa kantong ajaib?” Tanyaku yang penuh semangat kepada Inda. “Tentu saja aku siap, ayo kita berangkat sekarang.” Kataku kepada Inda. “Ayo..  kita pergi sekarang, eh kita atur dulu mau ke rumah siapa saja?” Tanya Inda padaku. “oh ya… kita ke rumah Raymon saja terlebih dahulu, neneknya kan jago bikin kue.”.

“Setuju…, ayo kita berangkat.” kata Inda padaku. “Tokkk..tokk..tokk… Selamat hari natal.” Kataku dan Inda. “Eh Din… kamu gimana sih, rumah Raymon kan gelap. Mungkin sedang lampu padam. “Kata Inda. “Ih Inda, kamu gimana sih, kalau lampunya padam berarti rumah kita juga lampunya padam. Rumah aku kan bersebelahan dengan rumahnya.” Kataku pada Inda. “pluk (Indah menepuk jidatnya)… iya juga ya… kita ke belakang rumahnya saja yuk.” Kata Inda. “Raymon… sudah kami tahu pasti kamu ada di rumah, kok lampu depan rumah kalian gelap ya?” Tanya Inda.”Iya, inikan baru jam 7 malam?” Tanyaku pada Raymon.

“Aku juga tidak tahu kenapa, nenekku yang menyuruh kami untuk mematikan lampu.” Kata Raymon yang terlihat kesal. Tiba-tiba suara seseorang pun terdengar di balik pintu Raymon. “Apa yang sedang kalian bicarakan anak-anak? Lebih baik masuk ke dalam rumah.” Suara nenek Raymon pun terdengar sedang memarahi kami. “Eh… nenek.. selamat hari natal nek” Kataku dan Dina.  “Ya… selamat natal, ayo masuk ke dalam”. Dina dan Inda pun masuk ke dalam rumah Raymon. Rumah Raymon terlihat sangat sepi tidak seperti biasanya ya selalu ramai.

Pandangan Dina dan Inda dialihkan dengan sebuah toples kaca bertutup merah yang dibawakan oleh nenek Raymon. “Saya tahu kalian pasti mau merasakan kue ini kan? Kuenya diambil 1 orang satu ya, jangan banyak-banyak. Tidak ada yang membatu nenek membuat kue. Makanya nenek matikan lampu, karena pasti aka nada banyak anak-anak yang berdatangan ke rumah nenek.” Kata nenek Raymon kepada kami sambil menyodorkan toples berisi kue. “Terima kasih nek, pasti enak.” Kata Inda. “Crekk…ckreeekk…. Aduh bapak… gigiku hampir patah.” Teriakkan Inda yang sangat keras.

“ssst… pplug (tangan Dina menutup mulut Inda) awas nanti kamu dimarahin sama neneknya Raymon. “Iya… kamu ambil makan kue kering ini campur saja dengan sprite (Raymon menyodorkan). Emang kuenya kayak batu, nenekku sepertinya lagi kesal. Makanya kuenya kayak batu ya.. Mana kantung merah kalian? ayo masukkin” Tanya Raymon kepada Dina dan Inda. “Ada… jangan diisi, nanti nenek kamu marah. Kami takut pada nenek kamu. Kata Dina kepada Raymon. “Tidak apa-apa, pasti tidak ada yang tahu, ayo masukkin ini.” “Sudah…sudah… ayo kita jalan sekarang, kamu ikut kan Ray.” Tanya Dina pada Ray. “Tentu saja, ayo. Kalian tidak lihat pakaianku yang baru. Heheh” Kata Raymon dengan penuh semangat. “Ayo…” Kata Dina dan Inda yang penuh dengan semangat.

“Rumah siapa lagi?” Tanya Dina. “Rumah Icha yuk” Kata Raymon. “Ayo…” “Selamat hari natal, kata kami bertiga.” “Selamat hari natal, jawab ibu Icha. “Silahkan masuk teman-teman.” Dina dan teman-temannya pun  masuk ke dalam.”  “Ichanya ada bu?”Tanya Inda. “Tidak ada, dia sedang pergi ke rumah neneknya. “Oh ya, ambil permen ini, 1 orang satu ya. Setelah itu, silahkan pulang ya.” Kata ibuk Icha “Ha? Apa? Permen? Inikan natal, kok kita di suruh ngambil permen sudah gitu cuman 1 saja.” Kata Raymon yang semakin mengeluh.

“Ya sudah, kita ambil saja yuk..” kata Dina yang membujuk ke dua temannya. “Malas ah… nggak bisa menuhin kresek merah kita dengan kue-kue kayak yang dulu.” Kata Inda. “Iyah… gimana kalau kita pulang saja?” Kata Raymon yang membujuk kedua temannya. “Gimana kalau kita pergi sekali lagi, siapa tahu kita dapat?” Tanya Dina yang sangat antusias. “mmm.. ayook… aku tahu ke mana,” Kata Raymon dengan penuh antusias. “Ke mana?” Tanya Dina dan Inda

“Ayokk, ke rumah Leci yuk. Pasti seru, makanannya pasti banyak.”  “Ayokk.” Kata Raymon yang disambut dengan teriakan semangat. Dina, Inda dan Raymon pun tiba di rumah Leci. Sesampainya di rumah Leci. Dina dan kedua temannya mendapatkan tantangan telebih dahulu. Mereka harus menyanyikan lagu natal.  “Ayo kita nyanyi lagu Selamat Hari Natal saja.” Kata Raymon yang mengajak teman-temannya. “1… 2… 3... Mulai” Dina dan kedua temannya akhirnya selesai membawakan lagu natal tersebut. “Ya, terima kasih. Ini buat kalian.” Sebuah kantong merah yang indah berhiaskan gambar santa claus. “Terima kasih bu, terima kasih Lecy.” Kata Dina dan ke-2 sahabatnya. Lecy yang tidak berbicara apapun hanya melihat ke-3 temannya yang sangat bersemangat “Ya.. bye-bye” jawab Lecy.

“Ayo cepat buka, ayook…” Kata Raymon yang tidak sabar untuk membuka kantok merah tersebut. “1 … 2… ya….” Seketika Dina dan teman-temannya tersediam dan hanya memandangi isi dari kresek merah tersebut. “Ini benar-benar…..” kata Inda yang kemudian terdiam. “Tidak….. huhuhuh… kenapa natal kali ini kita nggak dapat kayak dulu lagi. Dulunya kresek merah kita selalu terisi beraneka kue. Sekarang. KUe sekeras batu saja. Huhuhuhuh” kata Dina yang menangis sekencang-kencangnya.  “Ayo pulang ke rumah saja” Kata Raymon. Mereka bertiga pun pulang ke rumah dengan membawa 2 buah kresek merah. Sesampainya di rumah Dina menceritakan kepada kakaknya.

“Emangnya Dina dapat apa?” tanya kakak Dina. “Dari rumah Lecy Dina mendapatkan… huhuhuhu… hanya 1 buah minuman. Huhuhu” kata Dina yang masih menagis. “tidak apa-apa, Dina harus bersyukur dengan apapun yang Dina dapatkan. Masih baik ada yang memberikan.” Kata kakak Dina yang sedang menghibur Dina. "Walaupun ke-2 kresek merah ini tidak sesuai harapan Dina, tak masalah  yang penting Dina masih mendapatkan sesuatu ya.” kata kakak Dina. “Dina senang nggak masih bisa berjalan-jalan saat ini?” kata kakak Dina “Iya kak, Dina bersyukur Terima kasih sudah mengingatkan Dina kak” kata Dina yang kembali tersenyum. “Ya sudah, sekarang ayo kita nonton fim natal” kata kakak Dina. “Ayo… aku ingin menontonnya.” Jawab Dina dengan penuh semangat.    

Senin, 07 September 2020

 Persimpangan Jalan Setapak


    ”Dasar sombong… kamu pikir dirimu siapa haaa?” Kata laki-laki tua dengan tatapan mata yang seram. “Heyy kau, jangan terlalu bermimpi tinggi. Ingat siapa dirimu, kau hanyalah seorang gadis biasa yang tak mengerti apa-apa.” Katanya dengan nada yang semakin meninggi. DAG…DIG…DUG… jantungku berdetak lebih cepat dari standar normal. Kutarik nafas dalam-dalam dan ku hembuskan dengan pelan. Tak ku ijinkan seorang pun menyadari perasaanku yang dipenuhi rasa marah dan juga takut. Ya, itulah yang terjadi padaku. Bahkan rasa dingin pada dari tubuhku mengalahkan suhu yang dikeluarkan oleh AC. Seolah jantung ini berhenti memompa darah untuk tubuhku. Sekarang, rasa dingin pada tubuhku diikuti oleh keheningan yang memenuhi ruangan persegi itu. Tak dapat ku jawab pertanyaanya, pikirku hanyalah menatap yang paling tepat menjadi jawaban. 6 pasang mata itu menatapku dengan lirih, seolah ingin mengejekku yang sedang terpojok.  

    Huzzzhhh… kuyakinkan diriku menatap setiap mata yang tengah memojokkanku. Diam dan menatap itulah jawaban yang bisa kuberikan. 

    “Ahhh…. Memangnya kenapa?? Apa salahnya mengungkapkan setiap impian??? Apa yang salah dengan kehidupanku?” Tanyaku pada cermin di depanku. Ya, aku telah keluar dari ruangan persegi yang hampir membunuhku. 

    “ Percuma berdoa, apa yang ku dapatkan. Hanyalah hinaan, hahhh... Sudahlah aku tak ingin berdoa lagi. Kukira berdoa dapat merubah nasibku, ternyata doa hanyalah jampi-jampi pelipur lara.” “Mulai sekarang ku tak akan berdoa lagi,” janjiku pada diri sendiri yang kini meratapi betapa malangnya nasibku. 

   Pikirku lagi “Tak ada gunanya berdoa, aku hanya akan dipermalukan. Untuk apa doa itu, memang tak pintar otak ini. Doa itu benar teori jampi-jampi bagi orang disaat takut.” Teriakku dalam hati. Kulangkahkan kaki ini dengan cepat, agar aku segera keluar dari tempat  yang kubenci ini. “Siapa dia ??, seenaknya saja berkata padaku seperti ini?” Kataku yang telah berdiri mencari jalan besar. 

    Haahhhh Aku seperti badut yang menjadi lelucon bagi orang lain. Aku memang bukan siapa-siapa. Aku tahu siapa dan dari mana asalku. Entah kenapa dunia seolah tak berpihak padaku. Kaki ini kulangkahkan dengan begitu cepat, kususuri jalanan sepi itu. Kubiarkan otak ini dipenuhi pekerjaan untuk merumuskan setiap kata hinaan mereka tadi.

    Ahhh…kenapa harus sekarang?? Kataku yang merasa kesal pada diri sendiri. Ah….Air mata ini sudah tak bisa ditahan oleh kedua kelopak mataku. "Drusshhhh....Drushhh...ahhh tapi untunglah hujan yang lebih dahulu membasahiku, sebelum tepat mata ini meneteskan air mata.” Kataku yang kini dibasahi oleh guyuran hujan deras. 

    Setidaknya tangisanku tak terlihat oleh siapapun, yang pastinya aku tak terlihat seperti orang yang baru saja dicampakkan. “Ahh… apakah hujan ini sebagai tanda kalau semesta turut bersedih denganku? Atau semesta memberikan guyuran hujan sebagai tanda penghinaan untukku? Sudahlah, tak ada gunanya aku bertanya pada semesta.” Celutuku dalam hati. Kubiarkan hujanlah yang menjadi saksi untukku, kubiarkan hujan dan air mata ini berbalap-balapan membasahi pipiku. Tangisanku tak dapat kutahan... aku menangis sejadi-jadinya. Jengkel... kecewa… sakit… kini memenuhi diriku. “Tunggu saja dia... akan kubalas suatu saat nanti.” Janjiku pada diri sendiri. 

    Kubiarkan kaki ini terus melangkah.... melangkah sejauh mungkin. Melangkah tanpa menunggu instruksi dari otakku. Tiba... tiba mataku menatap yang tak biasa ku dilihat “Ahh.. warna itu, ya pelangi itu.  Zzztt… kakiku terhenti seketika. Kuizinkan otakku untuk berpikir kembali, sebelum kaki ini kembali melangkah.

    “Oooh tidak… kini aku benar-benar berada di persimpangan jalan setapak. Aku tak tahu, ada di mana aku sekarang. Sudah seberapa jauh aku melangkah? Ah…  mengapa aku berjalan sejauh ini? Apa yang sedang terjadi padaku? ooh.. rupanya aku benar-benar terjebak di persimpangan jalan setapak ini” Kataku yang kini terdiam dan tak ingin melangkah ke mana-mana. 

Kupejamkan mata ini, “Mengapa aku membiarkan api kemarahan ini menuntunku hingga tersesat? Apa yang sudah kuperbuat setahun ini?” Tanyaku yang tersadar dengan pemikiranku selama setahun belakangan ini.

    Ya… aku sadar… aku sudah terjebak dalam persimpangan jalan pemikiranku sendiri selama setahun. Seingatku… setelah  berjalan keluar dari ruangan itu. Aku kembali ke rumah dan mengurung diri selama setahun. Ketakutanku pada semua orang yang sempat mengenaliku. Ya… aku harus jujur dengan diriku sendiri. Namaku telah menjadi perbincangan hangat bagi orang yang mengenaliku. Mukaku menjadi pandangan sebelah mata setiap orang. Senyumku dibalas dengan tatapan tembok datar.

    Semua itu membuatku memilih menutup diri dari indahnya dunia ini. Itulah kejadian setahun yang lalu, membuatku menutup diri dan terjebak pada pemikiran tak berujung. Aku telah melangkah sejauh dari yang dipikirkan orang lain. Bukan… bukan kaki yang kumaksud… tetapi hati tak berkaki ini kubiarkan diisi oleh kegelapan yang menuntunku untuk merancang skenario buruk bagi orang itu.

    “Dipersimpangan jalan setapak pikiranku, kutemukan buku tua berdebu yang menuliskan indahnya sang Mahakarya membentuk diriku.” Ahahah…. Tawa ini pecah menertawai diri sendiri, betapa buruknya diriku tidak kubiarkan doa menjadi penuntun langkah ini. Masakan kubiarkan kegelapan menutupi hati nuraniku? Ahhh… aku telah membiarkan diriku tumbuh seperti kapas. Kubiarkan suara angin itu menerbangkanku ke sana kemari. “Cukup… semua harus berakhir.” Kataku yang beranjak dari kamarku. Kumantapkkan hati dan otakku menuntun kembali langkahku, menuju meja persegi yang memiliki buku berdebu itu.

    Kumantapkan hatiku, untuk mengambil buku berdebu yang  tebalnya seperti kamus dan yeahh... kubaca setiap lembarannya. Ya, aku sadar... masa laluku…perkataan itu, takkan bisa mengubah aku di mata Sang Skenario hidup. “Aku bisa. Sudah cukup setahun kubiarkan diriku terjebak dalam jalanan yang membara dan berhutan lebat. Dipersimpangan jalan ini, kupilih jalan yang berbunga harum dan penuh warna. 

    Kuberanikan mata ini membuka dengan lebar dan menatap dengan tajam. Kuhentakkan kaki ini dan memilih mengajar yang tertinggal dari diriku. Ranselku yang kosong, kini ku isi buku berwarna-warni dan buku berdebu itu. Ah tidak... sekarang menjadi kamus pedoman hidupku. Aku tidak akan meminta orang itu meminta maaf padaku. Akulah yang berterima kasih padanya, membuatku sadar bahwa di persimpangan jalanku, kutemukan apa yang menjadi panggilan hidupku.  

    Kumantapkan kembali tekadku dengan hati yang membara pada apa yang harus kuraih. Kini kupakai kamus tulisan sang Skenario hidup menjadi penuntun langkahku. Ya… inilah aku yang siap mengembara dunia ini.


 Tara and Her Old Shoes

Prokk…prokk…prokk… (suara tepuk tangan dari semua murid dan orang tua kelas 4 A)

“Selamat Tara… kamu mendapatkan peringkat 1 di kelas”. Kata bu Agnes.  “Silahkan Tara bersama orang tuanya maju ke depan menerima hadiah ini”. Panggil bu Agnes dengan senyuman yang sangat indah.

Tara pun maju ke depan bersama dengan ibunya. Tara menerima piagam penghargaan yang diberikan oleh bu Agnes dengan penuh bahagia. Bu Rina adalah ibu dari Tara, melihat keberhasilan dari putrinya dengan penuh sukacita. “Sekali lagi ibu ucapkan selamat ya nak, kamu berhasil mendapatkan hal ini.” Kata bu Agnes sambil menyerahkan piagam Tara. 

Tara dan bu Rina berjalan pulang ke rumah. Tara sangat bahagia saat perjalanan pulang ke rumah. Di perjalanan Tara menyampaikan pesan kepada ibunya. “Bu, kalau teman-teman Tara setiap kali mereka naik kelas dan mendapatkan peringkat. Mereka akan dibelikan hadiah baru oleh orang tua mereka bu.” Kata Tara dengan memamerkan senyuman yang indah. “Oh, begitu ya nak. Itu berarti bagian mereka dari Tuhan nak.” Jawab bu Rina yang disambut dengan seyuman. 

“Aku juga pengen dapat hadiah bu. Aku ingin mendapatkan sepatu baru. Sepatuku sudah lama bu. Aku ingin menggantinya dengan sepatu yang baru bu, sewaktu duduk di kelas yang baru juga.” Kata Tara dengan penuh harap. “Oh iya ya sudah cukup lama nak. Tapi sepatunya belum ada yang sobek ya?” Tanya bu Rina dengan senyuman. “Iya sih bu belum. Tapi aku ingin memakai sepatu baru di kelas yang baru bu. Seperti teman-temanku bu, mereka selalu memakai sepatu yang baru saat masuk kelas baru.” Kata Tara dengan senyuman khasnya lucu. “Oohh begitu ya nak. Kalau begitu kita mampir ke warung bu Tina dulu, kita makan siang di sana ya.” Jawab bu Tina

“Baik bu, oh ya bu aku ingin makan ayam goreng dan es buah. Pasti seger…” Kata Tara yang sangat antusias. Bu Rina kemudian memesan makanan. Setelah beberapa menit kemudian makanan yang dipesan pun datang. Seperti biasa, sebelum makan bu Rina memulai dengan doa terlebih dahulu. 

Saat makan, bu Rina membicarakan sesuatu hal kepada Tara. “Oh ya nak, kamu ingin sepatu baru karena mendapatkan rangking ya?” Tanya bu Rina. “Iya bu, teman-teman ku juga gitu bu, setiap kali dapat ranking pasti dibelikan hadiah bu.” Jelas Tara. “Nak, kamu mendapatkan ranking itu karena Tuhan yang memberikan kamu kepintaran. Tuhan yang membantu kamu sehingga bisa mengerjakan setiap tugas nak.” Kata bu Rina. “Wahh… iya juga ya bu. Lalu bagaimana bu?” Tanya Tara. “Lebih baik, kita memberikan persembahan kepada Tuhan. Karena Tuhan yang sudah memberikan semuanya kepadamu, bagaimana?.” Kata bu Rina yang memberikan senyuman manis kepada anaknya. “Iya bu, aku mau. Lalu bagaimana dengan sepatu baru bu?” Tanya Tara 

“Sekarang coba perhatikan sepatu kamu. Sepatu kamu masih bisa digunakan? Nah, coba kamu ingat-ingat setiap kali ke sekolah kamu selalu menggunakan sepatu inikan? Sepatu ini selalu menemani kamu nak.  Saat kamu lari, saat kamu berjalan disaat hujan dia selalu  menemanimu. Coba perhatikan warnanya, masih tetap cantikkan. Jadi kamu masih bisa menggunakannya nak.” Kata bu Rina yang memberikan penjelasan kepada anaknya. “Iya juga ya bu. Aku tidak dulu mendapatkan sepatu baru bu. Sepatu lamaku masih bagus kok bu.” Kata Tara. “Betul nak, Tuhan pasti sangat bangga dengan apa yang sudah kamu pilih.” Kata bu Rina yang memeluk Tara.  

“Aku tak boleh ikut-ikutan temanku, akukan diciptakan berbeda. Aku harus menjadi diriku sendiri.” Kata Tara disambut dengan senyum simpulnya


 Nina dan Kotak Rahasia


Nina duduk di kelas 4 SD, setiap hari Nina mendapatkan uang jajan dari ibu. Ya… uang jajan yang diberikan kepada Nina untuk ditabung. Ibu berpesan kepada Nina, bila Nina rajin menabung maka ibu akan memberikan hadiah kepadanya. Nina pun melakukan seperti  yang dikatakan oleh ibu. Setiap pulang sekolah, Nina selalu memasukkan uang tabungannya ke dalam celengan. 

Nina bersekolah di salah satu sekolah terbaik di kota tempat dirinya tinggal. Karena Nina bersekolah di tempat yang terkenal. Tentu saja teman-teman Nina adalah anak-anak yang suka menghabiskan uang pemberian orang tua mereka. Setiap pulang sekolah teman-teman Nina  pergi ke mall yang dekat dengan sekolahnya untuk membeli berbagai permainan. Terutama squishy yang saat itu menjadi trand permainan bagi anak-anak seusia Nina.

Pak Tirno dan bu Enda memperhatikan bahwa Nina tidak mengikuti apa yang dilakukan oleh teman-temannya. Dia hanya menemani temannya bila mereka pergi membeli  squishy.  Melihat kelakukan anaknya, pak Tirno dan bu Enda merasa sangat bangga, karena satu-satunya putri yang mereka miliki melakukan apa yang diperintahkan. Oleh karena itu, pak Tirno dan bu Enda membelikan sepatu roda kepada putrinya sebagai hadiah.Ya…  Nina telah melakukan seperti yang dikatakan oleh ibunya.

Saat pulang sekolah, kedua orang tua Nina memanggilnya ke meja makan untuk menyantap makan siang bersama. Ibu telah memasak makanan kesukaan Nina, ayam panggang yang terlihat lezat dan gurih. Selepas mengganti baju sekolah. Nina pun duduk bersama orang tuanya di meja makan. Sebelum  menyantap makanan, ayah mengajak mereka untuk berdoa bersama. Setelah doa, mereka pun menyantap makan siang.

Setelah selesai makan, ayah pergi ke kamar dan membawa sebuah kotak berwarna biru gelap di meja makan. “Nina… ayo buka kotak ini” kata ayah sambil menyodorkan kotak tersebut. “Apa ini ayah??” tanya Nina yang kemudian membuka kotak tersebut. Nina  terkejut melihat isi kotak tersebut. Sepatu roda berwarna pink yang sangat cantik, sepatu yang selama ini diinginkan oleh Nina. Nina kemudian berlari memeluk ayahnya yang saat itu duduk bersebrangan dengannya. “Terima kasih ayah… aku sangat bersyukur. Terima kasih sudah memberikanku ini.” Kata Nina sambil memeluk ayahnya.

Tak lama kemudian, ibu Nina pun keluar dengan membawa sebuah kotak berwarna merah jambu yang cukup berdebu beserta celengannya. “Nina… silahkan buka kotak ini” Ibu menyodorkan kotak tersebut, dan memegang celengan Nina. “Ibu….ibu….. “ Kata Nina yang disertai dengan tangisan yang sangat kuat. “Ibu memintamu membukanya nak, mengapa engkau menangis?” kata ibu sambil tersenyum kepada putrinya, 

Kotak merah jambu ternyata kotak rahasia milik Nina. Nina menyimpannya di bawah lemari pakaiannya. Selama ini ibu dan ayah Nina tidak mengetahui keberadaan dari kotak ini. Nina tidak membuka kotak ini, dia terus menangis memandangi kotak tersebut. Ibu mengelus lembut rambut Nina dan meminta Nina untuk menceritakan mengapa dia menyimpan kotak merah jambu ini. “Ayah… ibu… huhuhuh… maafkan Nina yang selama ini sudah berbohong kepada kalian.” Kata Nina diiringi isak tangisnya. Ayah dan ibu, memeluk Nina yang saat itu masih menangis. “Nina sudah bersalah, uang yang selama ini diberikan oleh ibu tidak setiap hari kutabung. Aku memakai uang yang diberikan oleh ibu untuk bermain game bersama teman-teman. Aku juga membeli permainan tanpa sepengetahuan ayah dan ibu.” Kata Nina sambil membuka kotak merah jambu itu.

“Kotak ini, berisi semua permainan yang kubeli dari hasil uang pemberian ibu dan juga ayah. Aku juga membeli permainan saat pergi bersama teman-teman. Tetapi, aku tidak menunjukkan pada ayah dan ibu. Aku menyimpannya di kotak ini. Maafkan aku ayah… ibu…” Kata Nina yang menunjukkan semua permainannya. “Ayah dan ibu senang bila kamu berkata jujur nak. Ayah dan ibu meminta kamu untuk menabung, agar suatu saat nanti bila kami tidak memiliki uang. Kamu sudah memiliki tabungan dan kamu dapat membeli sesuatu yang kamu butuhkan nak.” Kata ayah yang menatap putrinya dengan lembut. 

“Nina minta maaf ayah… seharusnya nina tidak melakukan hal ini. Nina menyimpan kotak rahasia ini dari ayah dan ibu. Nina sangat menyesal dengan semua perbuatan Nina.”  Kata Nina sambil merapikan permainan di kotak merah jambunya. “Nah… karena itu, ayah  dan ibu sepakat untuk tidak memberikan sepatu roda ini kepada Nina. Sepatu roda ini akan disumbangkan kepada anak-anak yang ada di panti asuhan nak” Kata ibu sambil mengusap rambu Nina. “Iya ibu, tidak apa-apa. Ini semua salah Nina. Seharusnya Nina tidak berbohong kepada kalian. Nina rela bila ibu memberikannya kepada orang lain.” Kata Nina yang kini tersenyum pada ayah dan ibu. 

“Ayah dan ibu memaafkan Nina, dan mulai sekarang Nina ayo menabung lagi ya nak. Jika kamu ingin membeli permainan, beritahukan pada ayah dan ibu dulu ya.” Kata ayah sambil memeluk Nina. “Iya ayah, Nina janji. Nina akan rajin menabung dan tidak akan berbohong lagi.” Kata Nina yang kemudian memeluk orang tuanya. “Betul nak, anak yang jujur pasti akan mendapatkan hadiah dari Tuhan. Sebab, Tuhan mencintai perbuatan yang jujur.” Kata ibu. Sejak saat itu, Nina bertekad untuk tidak lagi berbohong kepada Tuhan dan juga orang tuanya. 


 

Christmas Tree


We wish you ooh merry Christmas…

We wish you ooh merry Christmas…

Itulah yang saat ini ku dengar di sepanjang jalan perkotaan…Oh natal yang kutunggu hampir satu tahun ini. Tentu ini adalah waktu yang paling ditunggu oleh semua orang Kristen. Berkumpul bersama dengan seluruh keluarga,  bercanda, bergurau dan pastinya menikmati aneka jajanan kue yang telah dibuat. Inilah gambaran natal bagi orang perkotaan. 

“Hah…. Tapi tidak denganku… walaupun aku selalu menanti hari natal, tapi keinginanku tak selalu terwujud. Ya itulah diriku…Natal sama seperti hari libur biasanya. Tinggal di pedesaan membuatku tak selalu merasa keindahannya natal.” Kataku yang bergelut dalam hati. 

Baiklah, aku akan memperkenalkan siapa diriku. Namaku Tina, aku tinggal bersama ayahku di sebuah desa kecil dengan rumah yang berukuran minimalis. Rumahku menjadi salah satu dari begitu banyak rumah yang tidak tersentuh oleh listrik. Huhh… betapa sedihnya, natal selalu terasa gelap bagiku. Tak ada lampu kerlap kerlip seperti di perkotaan. Bahkan… aku pun tak mencium aroma kue kering yang baru dibuat. Ciumanku hanya pada singkong dan jagung bakar, sebagai sebuah ciri khas natal yang selalu kulalui.

Tak terdengar juga olehku lagu-lagu natal seperti yang diputarkan oleh orang-orang di perkotaan. Hanya bunyi pukulan tambur dan ukulele yang dimainkan oleh tetangga sekitarku. Bukannya itu membosankan??? “Sepertinya…, natal tahun ini pun akan terlewati seperti natal tahun kemarin. Sangat menyedihkan sekali natal bagiku.” Kataku pada diri sendiri.  Ku tengok pohon natal kecil di sudut ruang tamuku yang tak pernah dihiasi. Aku tak tahu, harus seperti apa menghiasinya. Tak terasa 10 tahun lamanya pohon natal itu menjadi pajangan di pojok ruang tamu rumahku, pastinya dengan debu dan sarang laba-laba yang menghiasinya.   Hahhhh… tawaku lirih melihat pohon natal itu.

“Kamu sedang apa nak? Bapak perhatikan, kamu sedang memikirkan sesuatu ya?” Tanya bapak. “ Oh, bapak… sejak kapan bapak di sini?”  jawabku dengan wajah yang dipenuhi rasa kaget. “Sejak tadi, bapak sudah duduk di sebelahmu. Kamu saja yang tidak menyadarinya” Kata bapak. “Wah… maaf pak, tadi aku tengah asik menatap bintang-bintang di langit.” Kataku yang dipenuhi kebohongan.

“Wah… sebentar lagi natal ya nak. Tak terasa, kita kembali merayakan kelahiran Tuhan Yesus”. Kata bapak yang dipenuhi wajah sumringah. “Hmmmp iya pak, tapi biasa sajakan pak. Toh setiap tahun kita selalu merayakan natal. Seperti biasanya.” Jawabku dengan bunyi suara desahan.

Bapak tak menjawab perkataanku, dia hanya menatap ke depan sambil memandangi pemandangan malam di atas bukit. Suasana malam di desaku sangat dingin, aku dan bapakku tak saling berbicara. Kami duduk di balai-balai rumah sambil memandangi pemandangan malam yang begitu gelap dengan pemikiran yang berkecambuk.

Pagi hari…. Tepatnya tanggal 24 Desember

“Krekk…. Krekkk… krekkk…,”. Buyi suara yang mengganggu telingaku. “KREEKKK…KKKREEEKK….” Bunyi yang tak henti-hentinya, bahkan suaranya seakan-akan berada di sampingku. Aku pun memutuskan untuk beranjak dari tempat tidurku dan melihat apa yang sedang terjadi di depan rumahku. “Pak…. Bapak sedang apa? Kenapa banyak sekali pohon bambu dan benang?” Tanyaku yang dipenuhi rasa kaget karena rumah yang begitu berantakan . 

“Sebentar lagikan natal. Ayo kita hiasi rumah ini.” Kata bapak dengan penuh antusias. “ Memangnya kita akan membuat apa dengan barang-barang ini pak” Tanyaku dengan menunjukkan rasa kesal. “Kita akan membuat pohon natal baru, pohon natal yang lama sudah bapak buang. Karena sudah lama tidak terpakai  jadinya rusak.” Kata bapak dengan penuh bahagia. 

“Tapi kok buatnya dari bambu sih pak. Jadinya pasti jelek, tidak sama seperti pohon natal yang lainnya.” Jawabku dengan penuh kekesalan. “Ya sudah, kalau kamu tidak mau bantu kamu mandi dan makan saja. Biar bapak saja yang menyelesaikannya.” Kata bapak dengan nada datar.

Aku pun memutuskan untuk masuk ke dalam. Beberapa menit kemudian, saat tengah asyik menikmati singkong rebus. Terdengar suara bapak memanggil namaku, “Tina… Tina… ayo kemari, lihatlah ini” suara bapak terdengar bahagia. Aku pun menghampiri bapak dan ya…. menakjubkan “ Wah… pak, ini cantik sekali pak. Kok bapak  bisa membuat seperti ini?” Tanyaku yang dipenuhi dengan rasa penasaran. “ Tentu saja nak, Tuhan sudah menyiapkan segala sesuatu untuk kita. Sekarang tinggal kita yang mengelolanya.” Kata bapak yang penuh kegirangan.

Ya… sekarang rumahku memiliki pohon natal yang ukurannya 210 cm, memang tidak terlalu tinggi. Tapi, ini adalah pohon natal yang belum pernah kulihat di manapun. Pohon natal yang terbuat dari ban motor, nilon, benang, bunga puring, kayu bambu, pohon jambu dan  kapas yang terdapat banyak di belakang rumahku. Tak pernah ku pikirkan sebelumnya, semua barang-barang ini dapat digunakan.

“ Natal …. bukan sekedar menghiasi rumah dengan barang-barang mewah yang kita beli. Natal… hati dan pemikiran kita sadar bahwa Tuhan sudah datang untuk semua orang.” Kata bapak sembari menatap pohon natal buatannya. Mendengar perkataan bapak aku hanya bisa terdiam dan ikut menatapi pohon natal  yang kini berada tepat di depan halaman rumah kami. “Satu hal yang harus kamu tahu dalam hidup ini, natal saat kita sadar bahwa kasih Tuhan sudah memberikan segalanya bagi kita. Apapun yang ada di sekitarmu bisa kau gunakan bukan hanya untukmu. Tapi berguna bagi orang lain. Karena natal itu tentang kasih nak.” Kata bapak yang kemudian pergi dariku.

“Semuanya….. ayo sudah saatnya kita merayakan natal. Ini sudah  hampir jam 12 malam, ayo kita berdoa bersama” Teriak  bapak sambil memukul gentong di depan rumahku untuk memanggil para warga. Teriakan dari para warga pun membuatku hanyut dalam rasa bahagia. Setiap warga datang bersama keluarganya membawa obor. Bernyanyi bersama dengan kerlap kerlip api unggun. Tak lupa jagung bakar dan singkong rebus, inilah yang menghiasi natalku. 

Christmas Tree… suasana berbeda dengan rasa berbeda yang membuatku mengerti arti dari natal yang sebenarnya.